DARI MEJA REDAKSI
Syalom pembaca.....
Dari lubuk hati yang paling dalam, team redaksi Buletin Klasis Malili-Nuha menyapa sidang pembaca dengan sapaan Kristiani : Syalom, Tuhan memberkati saudara dalam berbagai aktifitas yang sedang saudara lakukan.
Pada edisi kali ini Team Redaksi Buletin Klasis Malili-Nuha mengetengahkan berita-berita aktual terkait dengan kegiatan pelayanan yang dilakukan di jemaat-jemaat lingkungan Klasis Malili-Nuha plus kegiatan-kegiatan yang mengarahkan Jemaat-jemaat pada kegiatan-kegiatan Kemandirian Teologi, Daya Dan Dana. Penyajian berita yang dikemas pada edisi kali ini masih tetap berkisar pada pelayanan yang bersifat multi-dimensi : Ekonomi, Pendidikan, Pengembangan Sumber Daya Pelayan di Klasis, kajian – kajian Theologis tentang pokok-pokok penting yang membahani dan memperlengkapi warga gereja dalam perjalanan kehidupan sebagai orang Kristen juga menjadi sorotan berita yang dapat dikonsumsi oleh sidang pembaca sekalian. Singkatnya Team Redaksi Buletin Klasis dapat mengatakan bahwa Orientasi berita-berita yang kami turunkan pada setiap edisi sangat terkait dengan Thema Kerja Klasis Malili-Nuha : “Mengoptimalkan Potensi Warga Gereja Ke Arah Kemandirian Teologi, Daya Dan Dana demi terwujudnya Persekutuan, Pelayanan dan Kesaksian Gereja.” Oleh karena itu kami mengajak seluruh warga Jemaat agar mulai dan terus mencintai Buletin ini, karena dia adalah milik kita yang dibangun berdasarkan prinsip dari kita, oleh kita dan untuk kita, sehingga suatu saat Buletin ini akan menjadi Media Pelayanan yang efektif dalam membangun persekutuan jemaat-jemaat bukan saja di lingkungan Klasis Malili-Nuha, tetapi juga di seluruh wilayah Tri angle (Segi Tiga Emas) Malili-Nuha - Mangkutana-Tomoni - Wotu.
Cover Buletin pada edisi ke-5 ini adalah potret Jemaat Kelompok Kebaktian Atue, Kegiatan Pembinaan Remaja Klasis di Pantai Ide Soroako dan kegiatan Post Evaluasi Mahasiswa STT GKST Tentena-Majelis Klasis Malili-Nuha sehubungan dengan pelaksanaan PPJ di 8 Jemaat di Klasis Malili-Nuha. Team Redaksi juga berharap sekiranya warga jemaat memiliki berita-berita yang terkait dengan pelayanan, Kajian-kajian Teologis atau tulisan-tulisan yang berhubungan dengan kehidupan bergereja, kiranya itu disampaikan kepada Team Redaksi untuk selanjutnya dapat dimuat pada edisi-edisi berikutnya. Kita yakin bersama bahwa tulisan-tulisan yang datangnya dari warga Jemaat pada akhirnya akan sangat memberi warna bagi Buletin yang akan diterbitkan kemudian. Dengan kemampuan yang ada, kami telah berupaya untuk menyajikan berita-berita yang seimbang tentang kegiatan – kegiatan Jemaat. Kami juga berupaya dengan kemampuan yang ada untuk menyajikan berita yang seobyektif mungkin sesuai Investigasi yang kami lakukan di Lapangan. Selamat membaca....
Salam Dari Team Redaksi
TEOLOGI BAPTISAN :
“BEBERAPA PANDANGAN TENTANG BAPTISAN”
A.1. Sakramen Baptisan Dalam Persepsi Katolik.
Konsep serta Doktrin Baptisan dalam pandangan Katolik sangat jauh berbeda dengan apa yang dianut dan dipahami dalam lingkungan Gereja Protestan khususnya gereja Calvinis, termasuk GKST. Dalam pandangan Katolik, Baptisan sama sekali bukan sekedar symbol tetapi merupakan sebuah tanda dan sarana di mana melalui Baptisan, seseorang secara langsung bisa memperoleh rahmat Allah, baptisan secara tidak langsung juga dipahami sebagai kenyataan di mana saat seseorang menerima Baptisan maka secara otomatis ia lahir menjadi manusia baru. Pandangan ini sama dengan Doktrin Trans Sub Tansiasi dalam Sakramen Perjamuan Kudus, yaitu ketika seseorang makan roti dan anggur Perjamuan, maka secara otomatis pada saat itu ia benar-benar makan daging dan minum darah Kristus yang juga dipahami sebagai sarana untuk memperoleh Rahmat Allah.
*). 5 (Lima) Sakramen Dalam Gereja Katolik : Pentahbisan, Peneguhan, Perkawinan, Penebusan Dosa :( Perjamuan = Ekaristi = Mengucap syukur, dan Baptisan) dan Peminyakan suci yang diberikan kepada orang Katolik pada saat kematian. Disamping diterimanya Baptisan terhadap orang dewasa, Baptisan anak juga adalah salah satu Doktrin penting dalam Gereja Katolik. Dalam doktrin Gereja Katolik, Baptisan dipandang sebagai pintu gerbang bagi sakramen-sakramen lainnya. Selanjutnya Tentang Praktek Baptisan, gereja Katolik menerima semua bentuk baptisan baik percik, selam maupun Tuangan, terutama yang dipraktekan oleh gereja-gereja Protestan yang masuk sebagai anggota PGI.
Referensi : 1. Situs : www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php
2. Situs : http://www.katolisitas.org
3. Situs : www.Carmelia.Net.com
4. Situs : www.pondokrenungan.com/forum/viewtopic.php
A.2. Sakramen Baptisan dalam Persepsi Gereja-gereja Kharismatis dan Anabaptis.
Doktrin Baptisan dalam pandangan Gereja-gereja Kharismatis juga berada pada Interpretasi (Penafsiran) yang cukup berbeda. Aliran ini lebih menekankan tentang bentuk Baptisan dan tentang siapa yang layak menerima Baptisan. Gereja-gereja Kharismatis mengajarkan bahwa Baptisan yang sah dan menyelamatkan adalah Baptisan selam. Pandangan ini didasari oleh Interpretasi terhadap Injil Matius 3:16 “…Yesus segera keluar dari air…”. Ayat Ini diartikan bahwa sebelumnya Tuhan Yesus berada di dalam air bahkan diberi pengertian dalam keadaan menyelam atau tenggelam. Sehubungan dengan Doktrin ini, Pada Katakombe-katakombe umat Kristen yang hidup dekat dengan zaman Rasul-rasul, terdapat gambar-gambar tentang Tuhan Yesus dibaptis, dan yang menarik adalah bahwa dalam gambar-gambar tersebut dilukiskan bahwa ketika Tuhan Yesus dibaptis, Ia masuk ke dalam air hanya sebatas lutut. Doktrin Baptisan selam sebagai Baptisan yang dianggap sah dan menyelamatkan muncul juga dari penafsiran kata “ = Baptizo” yang digunakan dalam Alkitab, terutama khusus yang terdapat dalam Mat 3:16. Kata “Baptizo” ini diinterpretasi dan diartikan oleh gereja Kharismatis sebagai menenggelamkan sesuatu ke dalam air. Sedangkan kata Baptizo dalam Alkitab sebetulnya memiliki beberapa pengertian seperti : mencelupkan, mencuci, menyiram dengan alat (Lukas 11:38). Berdasarkan Penafsiran Matius 3:16, terutama kata Baptizo pada ayat itu, maka gereja-gereja Kharismatis menganggap bahwa baptisan selamlah yang dianggap sah dan menyelamatkan sedangkan yang lain tidak sah. Tetapi selanjutnya, Jika dilihat secara Teologis, Baptisan yang diberikan kepada Tuhan Yesus oleh Yohanes sama sekali tidak ada relevansinya dengan Baptisan sebagaimana yang di perintahkan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 28:19-20. Baptisan yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus dalam ayat ini adalah sebagai tindakan symbol kemuridan (Discipless Symbol), dan bukan baptisan pertobatan yang menyelamatkan.
Sama dengan penganut Anabaptis (Conrad Grebel, Feliks Mans, = Pendiri-pendiri Anabaptis, di Zurich, di Belanda gerakan ini di sebut Menonite= didirikan oleh Menno Simons). Gerakan Anabaptis sama sekali tidak menerima Baptisan anak-anak dengan alasan bahwa seseorang layak menerima baptisan apabila ia sudah menerima pengajaran tentang Iman Kristen dan menyatakan pertobatan secara penuh dihadapan Allah. Karenanya, melalui baptisan itu ia berhak untuk diselamatkan. Jadi di lingkungan gereja Anabaptis, bahwa yang boleh diberikan pelayanan baptisan hanya orang-orang dewasa. Bentuk Baptisan yang diterima dan dipraktekan di gereja Anabaptis adalah sama dengan gereja-gereja Kharismatik yaitu Baptisan selam.
A.3. Sakramen Baptisan Dalam Pandangan Gereja
Calvinis (Include GKST).
Di lingkungan gereja-gereja Calvinis tidak terdapat penekanan-penekanan yang begitu Fanatik apalagi menjadikan Sakramen Baptisan sebagai ajang berfolemik (Perdebatan) dan konflik. Dalam pandangan gereja-gereja Calvinis dipahami bahwa Keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus itu datang dan terjadi lebih dahulu sebelum adanya Baptisan. Oleh karena itu Baptisan sangat dipahami sebagai sebuah symbol bahwa seseorang yang sudah menerima baptisan kudus berarti ia benar-benar sudah memperoleh materai = tanda keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Baptisan sama sekali tidak menyelamatkan, sebab yang menyelamatkan setiap orang percaya adalah Tuhan Yesus sendiri. Baptisan yang di perintahkan oleh Tuhan Yesus sama sekali berbeda dengan baptisan Yohanes. Baptisan Yohanes merupakan Baptisan pertobatan sebagai persiapan untuk memasuki Kerajaan Allah sebagaimana dinubuatkan oleh para Nabi (Mal 3:1, Mat 3:1-12, Mark 1:2-8). Jadi esensinya bagi gereja-gereja Calvinis bahwa Baptisan lebih merupakan symbol unitas (Penyatuan) antara orang percaya dengan Kristus yang telah menyelamatkan mereka.
Sakramen Baptisan lebih dipahami sebagai sebuah Ikrar atau janji bahwa seseorang akan mengerjakan keselamatan oleh Tuhan Yesus Kristus itu dengan setia sebagai anggota-anggota tubuh Kristus (Sacramentum).
Selanjutnya tentang Bentuk dan siapa yang berhak untuk dibaptis, Gereja-gereja Calvinis juga tidak menitikberatkan pada hal-hal itu. Di GKST khususnya, Doktrin tentang Sakramen Baptisan telah dirumuskan sedemikian rupa Dalam Tata Gereja (Tata Laksana khususnya pada Pasal 47,48,49,50).
Selanjutnya di lingkungan gereja Calvinis secara khusus di GKST, ada beberapa pokok penting sehubungan dengan Baptisan yang perlu dimengerti dan dipahami oleh warga gereja yaitu tentang:
A.3.1. Penetapan Baptisan.
Dasar Alkitabiah tentang penetapan Baptisan sangat jelas tersurat dalam Amanat Agung (The Great Comand) sebagaimana terdapat dalam Matius 28:18-20. Ini merupakan perintah yang harus dikerjakan oleh para murid ketika mereka melaksanakan tugas pemberitaan Injil. Dalam pandangan Tuhan Yesus bahwa setiap orang yang masuk dalam lingkungan orang percaya harus menerima meterai (Cap/tanda) bahwa mereka benar-benar adalah milik Kristus dan mendapat bagian dalam keseluruhan janji-janji dan karya penyelamatan yang dikerjakan oleh Allah. Baptisan juga merupakan Meterai bahwa orang yang telah menerima Baptisan akan benar-benar hidup sesuai dengan kehendak Allah, memiliki ikrar akan tetap setia untuk mengerjakan keselamatan itu dalam kehidupannya (band Filipi 2:12-13). Jadi Baptisan bukanlah kehendak manusia, tetapi Baptisan yang harus dilakukan oleh gereja telah ditetapkan sendiri oleh Tuhan Yesus Kristus Kepala Gereja. Rumusan Baptisan dalam Matius 28:19-20 juga sangat jelas. Dalam ayat tersebut ada 3 (Tiga) kata penting yaitu :
1. “Jadikanlah semua bangsa muridKu”,
2. “Baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus”,
3. Dan kata yang ketiga adalah “Ajarlah mereka untuk melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”.
Perintah untuk mengajar pada ayat ini dapat dipahami sebagai sebuah proses di mana seseorang dimungkinkan untuk memahami tugas kemuridannya. Ketika seseorang menjadi murid, dia belum memahami sama sekali apa yang menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang murid. Bahkan ketika seseorang disahkan menjadi seorang muridpun, sebetulnya ia belum sepenuhnya memahami apa arti, tugas dan tanggung jawab kemuridannya, karena dia belum menerima pengajaran tentang hal itu. Demikian juga dalam hal menjadi murid Tuhan Yesus, seseorang terlebih dahulu harus dipastikan menjadi murid (sama dengan diregistrasi, didaftarkan), kemudian langkah selanjutnya adalah bahwa oknum tersebut diberi tanda melalui baptisan bahwa ia telah menjadi murid Tuhan, masuk dalam keanggotaan murid Tuhan dan langkah terakhir adalah memberi pengajaran agar ia benar-benar memahami apa arti, tugas dan tanggung jawabnya sebagai murid-murid Tuhan Yesus. Melalui Proses Edukasi (Pengajaran dan Pendidikan) inilah pada akhirnya ia akan benar-benar memahami bahwa melalui hidup kudus, ia bertanggung jawab penuh untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang murid Tuhan Yesus. Jadi dalam Matius 28:19-20, Tuhan Yesus tidak pernah bermaksud bahwa seseorang harus memahami terlebih dahulu segala sesuatu tentang arti, tugas dan tanggung jawab kemuridannya kemudian barulah ia boleh dibaptiskan. Tetapi pada ayat ini sangat jelas maksud Tuhan, bahwa langkah-langkah yang harus dilakukan dalam proses pemuridan adalah bersedia Menjadi murid, lalu kemuridan itu ditandai dengan Baptisan, kemudian langkah terakhir adalah menerima pengajaran. Melalui pengajaran inilah seseorang pada akhirnya memutuskan secara pribadi untuk benar-benar mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamatnya, lalu selanjutnya siap melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai murid-murid Tuhan yang bersaksi (= Marthuria), bersekutu = koinonia) dan melayani (= diakonia).
A.3.2. Arti dan maksud Baptisan.
Formulasi kata dalam akta Baptisan Kristen secara Alkitabiah adalah : “Dibaptiskan dalam Nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Formulasi kata dalam Akta Baptisan ini menggambarkan Allah dalam bentuk Trinitas, artinya bahwa Allah yang dipercayai oleh gereja adalah Allah yang menyatakan diri dalam ketritunggalan yaitu dalam Bapa, Anak dan Roh Kudus di mana ketiganya adalah Allah yang Esa atau satu. Oknum Allah yang satu tidak dapat dipisahkan dengan yang lain dalam kerangka karya Allah untuk keselamatan manusia. Oleh karena itu kita di Baptiskan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Dibaptiskan dalam nama BAPA berarti menyaksikan dan memeteraikan atau memberi tanda kepada kita (Warga gereja) bahwa Allah Bapa telah mengadakan Perjanjian anugerah yang kekal dengan kita dan bersedia mengangkat kita menjadi anakNya dan menjadi warisNya (Kej 17:10,12).
Dibaptiskan dalam nama ANAK berarti menyaksikan dan memeteraikan atau memberi tanda kepada kita (Warga gereja) bahwa Allah di dalam Anak yaitu Tuhan Yesus Kristus telah membasuh kita dari dosa, menerima kita ke dalam persekutuan mautNya artinya kita telah mematikan semua kehidupan dan keinginan dosa kita dalam kematian Kristus. Dibaptiskan dalam nama Anak juga berarti bahwa kita diterima dalam persekutuan dengan Tuhan melalui kebangkitanNya, kita dilepaskan dari dosa, dianggap benar dan layak menerima kehidupan yang kekal. Pembenaran itu dapat terjadi oleh Iman (Sola Fide; Roma 5:1, Galatia 3:24).
Dibaptiskan dalam nama ROH KUDUS berarti meneguhkan bahwa Roh Kudus (Yunani : = Paraklethos) akan berdiam dalam diri kita dan memberikan kepada kita suatu kehidupan yang baru setiap hari dalam persekutuan dengan Kristus (band. I Tim 3:16).
A.3.3. Dasar Baptisan bagi Anak-anak.
Di lingkungan gereja-gereja Calvinis secara khusus di GKST, bahwa dalam prakteknya, Sakramen Baptisan Kudus tidak hanya dilakukan bagi orang dewasa , tetapi juga dilakukan terhadap anak-anak. Doktrin (Ajaran) gereja ini tidak diangkat dari luar konteks Alkitabiah. Pelayanan Sakramen Baptisan terhadap anak-anak yang sudah dilakukan sepanjang sejarah gereja Calvinis secara khusus di GKST juga bersumber dari Alkitab. Dipahami bahwa Baptisan dalam Perjanjian Baru sejajar dengan Sunat dalam Perjanjian Lama, di mana baik Baptisan maupun Sunat keduanya adalah Materai atau tanda Perjanjian Allah dengan umatNya. PL menjelaskan bahwa anak-anak dan semua yang ada di lingkungan keluarga Abraham disunatkan pada umur 8 (Delapan) hari : Kej. 17:10,12 ; Kej. 21:4.
Tentang Baptisan terhadap anak-anak, Penganut Calvinis hanya setia mendengar dan melakukan amanat Tuhan Yesus dalam Mat 28:19-20. Disamping itu teguran Tuhan Yesus kepada para murid yang menghalangi-halangi anak-anak untuk datang kepada Tuhan Yesus juga menjadi landasan sangat kuat bagi GKST khususnya untuk melakukan Baptisan terhadap anak-anak (Luk 18:16, Mark 10:14, Mat 19:14).
B. TANGGUNG JAWAB ORANG TUA.
B.1. Mendidik Anak-anak - Dimensi Spiritual (Pendidikan Rohani).
Keluarga Kristen tidak hanya merupakan tempat di mana anak bertumbuh secara fisik, tetapi juga merupakan tempat di mana anak bertumbuh secara Iman. Anak-anak yang telah menerima Baptisan berdasarkan Convesi (Pengakuan) dari orang tua harus senantiasa diberikan pendidikan kerohanian yang baik. Lingkungan keluarga dan orang tua merupakan tempat pendidikan Iman yang paling utama. Kemampuan berteologi anak sangat ditentukan oleh pendidikan Rohani yang diberikan oleh orang tua. Kemampuan berteologi anak dapat mulai dengan memberikan pendidikan dan pengajaran tentang berdoa, berdevosi (berserah kepada Tuhan), membaca dan merenungkan firman Tuhan dan anak-anak harus diajarkan tentang bagaimana kehidupan persekutuan yang dinyatakan dengan kasih terhadap Tuhan dan sesama manusia (Band. Matius 22:37-40). Keberhasilan ini sangat ditentukan oleh sikap orang tua dalam memberikan contoh bagi anak-anak. Contoh orang tua dalam doa mereka, dalam persekutuan, dalam membaca kitab suci dan dalam penyerahan diri mereka terhadap Tuhan adalah sangat memungkinkan membuat anak-anak berhasil diajar sehingga satu saat anak-anak dapat secara pribadi mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat mereka.
Tanggung jawab mendidik anak-anak secara rohani adalah perintah dari Tuhan sendiri kepada orang tua (Ulangan 6:4-10). Perintah mengajar anak-anak untuk pertumbuhan imannya tidak boleh diabaikan oleh orang tua, itu harus diajarkan dan dilakukan berulang-ulang dalam segala situasi, tempat dan kesempatan. Apabila ini gagal, maka orang tua akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan.
B.2. Menanamkan Pengetahuan – Pendidikan Formal.
Manfaat Pendidikan Formal bagi anak-anak begitu besar. Anak-anak harus disekolahkan dan diberikan kesempatan untuk menyerap pengetahuan yang sebesar-besarnya di bangku pendidikan. Ini bukan saja bertujuan supaya mereka memiliki pengetahuan luas, tetapi Pendidikan memberikan kemungkinan basar bagi anak-anak untuk bisa meraih masa depan yang lebih baik. Dengan menyekolahkan anak-anak, berarti memberikan kesempatan kepada mereka untuk memiliki kemampuan-kemampuan untuk sekali waktu dapat melakukan Transformasi (perubahan) positif di lingkungan keluarga, gereja dan masyarakat. Anak-anak Allah yang telah menerima Baptisan sebagai tanda keselamatan harus mampu menjadi transformator atau orang-orang yang mampu melakukan perubahan-perubahan yang lebih baik sebagai perwujudan tanda-tanda Kerajaan Allah di dalam dunia. Anak-anak dalam keluarga Kristen tidak boleh bodoh. Dengan Iman, Ilmu Pengetahuan dan kecerdasan berpikir maka ia akan sanggup menjadi garam dan terang bagi dunia ini (Mat 5:13). Jika anak-anak Allah bodoh, maka mereka akan menjadi beban bagi orang lain dan akhirnya akan kehilangan rasa asin, lalu diinjak-injak oleh orang lain.
B.3. Membentuk Etika dan Moral Anak.
Berkembangnya tekhnologi komunikasi dan Informasi seperti fenomena TV, Internet, HP, dll, adalah sebuah tantangan tersendiri bagi keluarga Kristen untuk membentuk dan menciptakan karakteristik anak-anak yang beretika dan bermoral, baik dalam lingkungan Rumah tangga, gereja dan masyarakat luas. Satu pertanyaan Reflektif dan kritis bagi kita : “Ketika dunia dipengaruhi oleh perkembangan tekhnologi yang begitu hebat di mana budaya Materialisme dan kesenangan dunia (Hedonisme) semakin merajalela, apakah orang tua masih mampu memberikan bekal Etika dan moral bagi anak-anaknya?” , “Masih mampukah para orang tua Kristen mengarahkan dan menjadikan keluarga sebagai tempat persemaian bagi bibit-bibit moral dan etika yang baik bagi anak-anak?”
Kegelisahan-kegelisahan yang tersirat dalam pertanyaan di atas sebetulnya tidak perlu ada, sebab dalam tatanan kehidupan Kristen, Keluarga yang terdiri dari orang tua dan anak-anak adalah unit kecil atau bagian kecil dari gereja. Bahkan rumah tangga dapat dikatakan sebagai “Small Church” (Gereja Kecil) tempat bersemai dan bertumbuhnya benih etika dan moral. Ketika tanggung jawab dalam membentuk etika dan Moral anak-anak dan keluarga diabaikan, maka dapat dipastikan bahwa rumah tangga dan anak-anak akan menjadi “Neraka kecil” di dalam gereja dan masyarakat. Di sana akan tumbuh manusia-manusia yang tidak memiliki etika dan moral, di sana bertumbuh subur kebencian, Iri hati, persaingan yang tidak sehat, curiga, gaya hidup yang rusak yang akhirnya menelurkan keluarga dan anak-anak yang hancur dengan keputusasaan, tidak berprikemanusiaan, depresi (tertekan), tidak punya semangat hidup dan stress. Jadi peran orang tua sangat penting dalam pembentukan etika dan moral yang baik bagi anak-anak, sehingga mereka tetap menjadi anak-anak terang (Band. Efesus 5:8). Disamping itu ganjaran bagi anak-anak juga penting dalam rangka membentuk etika dan moral mereka, supaya mereka tidak menjadi anak-anak gampangan (Band. Ibrani 12:8).
B.4. Menanamkan Majemen Ekonomi.
Hampir Seluruh dimensi kehidupan manusia membutuhkan biaya. Brdasarkan asumsi ini munculah peristilahan “Biaya Hidup”. Ketika kita membicarakan tentang biaya hidup, maka kita akan segera mengingat sebuah Ilmu penting yaitu Ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi adalah cara bagaimana kita mengelolah kehidupan ini dengan segala potensi yang ada baik potensi kecil maupun besar. Segala potensi itu dimaksimalkan sehingga kita akan mengalami kehidupan yang layak dan berkecukupan bahkan mencapai taraf hidup yang sejahtera.
Sejak dini kepada anak-anak yang telah dibaptiskan harus ditanamkan tentang prinsip-prinsip ekonomi. Bagaimana mengelolah kehidupan sehingga mencapai tingkat kesejahteraan di mana seluruh biaya dan kebutuhan hidup dapat terpenuhi. Anak-anak perlu diarahkan untuk bekerja secara kreatif sesuai dengan potensi yang ada baik potensi diri mereka maupun potensi-potensi alam yang tersedia. Maksud Allah menempatkan manusia di Taman Eden dalam Kejadian 2:15 sangat jelas yaitu untuk memelihara dan mengusahakan taman itu. Maksud Allah adalah supaya manusia menikmati kesejahteraan dan manusia yang sejahtera sesuai dengan kehendakNya adalah Mitra Allah yang baik. Anak-anak tidak dapat mengenal dan menikmati kehidupan yang sejahtera jika mereka dimanjakan dengan kemalasan. Kepada mereka perlu ditanamkan bagaimana bekerja, bagaimana mempersiapkan sesuatu untuk masa depan yang lebih baik. Orang Kristen akan menjadi beban bagi orang lain jika mereka mengalami kemiskinan, dan Tuhan tidak menghendaki hal itu terjadi. Orang tua harus menanamkan kepada anak-anak bahwa dengan bekerja keras, cerdas dan beriman, maka mereka akan menjadi orang-orang yang diberkati. Setiap orang membutuhkan biaya untuk melakukan segala sesuatu dalam hidupnya. Oleh karena itulah bahwa untuk mencukupkan biaya hidup, maka seseorang harus melakukan pengelolahan yang benar terhadap ekonomi keluarganya (Band. Lukas 14:28). Beberapa Metode penting dalam Rangka mendidik anak-anak untuk belajar mempersiapkan masa depan secara ekonomis :
1. Didik anak-anak untuk Menabung Sejak Dini.
2. Didik anak-anak untuk bekerja sejak masih kecil sesuai potensi yang mereka miliki.
3. Didik anak-anak untuk mengetahui potensi-potensi yang dapat menghasilkan secara ekonomis.
4. Didik anak-anak untuk menghargai setiap hal yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka (Hemat).
5. Jangan Pernah memanjakan anak-anak yang sudah dimateraikan melalui Sakramen Baptisan Kudus. Jika mereka menjadi anak-anak yang bebal dan malas, maka Tuhan akan menuntut janji kita di hadapanNya ketika mereka dibaptiskan.
C. KESIMPULAN.
Sakramen Baptisan Kudus adalah elemen penting dalam doktrin atau ajaran Kristen. Dilingkungan gereja Calvinis, secara khusus di GKST, Doktrin Sakramen Baptisan Kudus dipahami sebagai Symbol, Materai, tanda bahwa seseorang benar-benar telah masuk ke dalam persekutuan dengan Kristus dan oleh Iman, mereka dibenarkan, diangkat menjadi ahli waris Kerajaan Allah dan menerima keselamatan yang telah dikerjakan oleh Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Sakramen Baptisan Kudus di lingkungan gereja Calvinis tidak dipahami sebagai doktrin yang menyelamatkan, sebab sentral keselamatan adalah Allah sendiri di dalam Tuhan Yesus Kristus. Tetapi meskipun demikian, warga gereja GKST khususnya dipanggil supaya jangan lalai untuk melaksanakan Sakramen Baptisan Kudus, karena Sakramen Baptisan Kudus adalah amanat agung dari Tuhan Yesus Kristus Sang Kepala Gereja. Gereja-gereja Calvinis secara khusus GKST tidak pernah mempersoalkan Siapa dan bagaimana bentuk Baptisan yang dilakukan. GKST menerima Baptisan yang dilayankan bagi anak-anak bahkan juga menerima Baptisan yang diberikan kepada orang dewasa, sebab dalam pandangan GKST semua usia berhak menerima janji-janji Keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Pandangan ini didasari oleh konsep Alkitabiah, bahwa seseorang dibenarkan oleh Iman mereka yang sungguh-sungguh (Roma 5:1). Sehubungan dengan bentuk Baptisan, GKST menerima semua bentuk Baptisan baik yang dilakukan dengan cara diselam maupun percik, tetapi di lingkungan GKST mempraktekan Baptisan Percik. Baptisan dewasa yang dilakukan di GKST, itu sekaligus sebagai sidi di mana oknum yang menerima Baptisan dewasa telah mampu menyatakan pengakuan dan Imannya secara pribadi di hadapan Allah. Selanjutnya ia bertanggungjawab secara pribadi untuk melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawab gereja yaitu bersekutu, bersaksi dan melayani. Sehubungan dengan tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya yang sudah dibaptiskan, ini adalah panggilan yang sangat penting. Tanggung jawab mendidik anak-anak pada semua dimensi kehidupan termasuk Etika, Moral dan manajemen ekonomi, adalah wujud pelaksanaan Ikrar dan janjinya dihadapan Allah, sehingga melalui pelaksanaan tanggung jawab ini, anak-anak akan mampu mengucapkan Convesi (Pengakuan) secara pribadi bahwa Tuhan adalah Juruselamatnya.
JEMAAT SION WASUPONDA BANGKIT
MEMBANGUN RUMAHNYA TUHAN
Kekuatan kebersamaan yang mulai nampak hidup
Banyak perbedaan yang muncul dikalangan warga gereja terkait dengan pembangunan fisik ( baca : Gedung gereja) yang dilakukan pada kebanyakan jemaat khususnya di jemaat-jemaat GKST. Perbedaan tersebut muncul justru dikalangan warga GKST sendiri yang nota bene secara membership (Keanggotaan), mereka yang berbeda pendapat ini adalah sama-sama anggota GKST. Perbedaan pandangan itu sendiri dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Golongan warga Gereja yang berpendapat bahwa Pembangunan Fisik bukan bagian penting dari misi gereja di dalam dunia. Pandangan ini menitikberatkan pembangunan mental-spiritual dikalangan warga gereja. Bagaimana warga gereja dibangun mental-spiritualnya sehingga mereka dapat menyatakan kedewasaan Iman, bagaimana misi gereja diarahkan pada kegiatan-kegiatan sosial dan seterusnya itulah yang terpenting menurut penganut pandangan ini. Jika pembangunan fisik menjadi penekanan gereja, mereka menganggap bahwa gereja hanya membuang-buang dana dan energy untuk hal-hal yang hanya bersifat tidak penting.
2. Pandangan warga gereja yang berpendapat bahwa Pembangunan fisik merupakan bagian penting dari tugas dan panggilan gereja. Pandangan ini dilatarbelakangi oleh pemahaman bahwa : Pembangunan fisik merupakan salah satu bagian dari tugas dan misi gereja di dalam dunia. Sebab Pembangunan Fisik adalah elemen yang tidak dapat dipisahkan dari kesaksian gereja yang dapat disaksikan oleh “orang lain” sebagai symbol atau representasi - Presensi (Kehadiran Allah) di tengah-tengah gereja atau jemaat Tuhan.
Pandangan-pandangan yang berbeda di lingkungan warga Gereja, secara khusus warga GKST sangat dipengaruhi oleh Reformation Movement (Gerakan Reformasi) yang berada pada titik puncak ketika seorang Imam bernama Marthen Luther mengalami pencerahan dalam kehidupan berimannya. Pada tanggal 31 Oktober 1517, pokok-pokok pikiran Luther ditempelkan pada pintu gereja di wittenberg (Jerman), selanjutnya pokok-pokok pikiran ini dikenal dengan apa yang disebut 95 Dalil Marthen Luther. Pandangan-pandangan Luther tentang kehidupan bergereja selanjutnya berhasil merombak sistem lama yang dianggap kaku secara dogmatis dan sejak saat itu banyak orang Kristen sepakat dengan Luther bahwa Doktrin gereja tentang keselamatan kembali kepada pandangan Alkitab dan bukan lagi pada dogma-dogma gereja yang kaku.
Yang menjadi pokok utama dari kegelisahan Luther adalah bagian Alkitab dari Roma 1:17b. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman." Luther percaya bahwa apa yang dilakukan oleh Allah di dalam Yesus Kristus merupakan garansi (Jaminan) keselamatan yang paling perfec (Sempurna), sebab Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan semua orang yang beriman. Orang-orang yang dibenarkan oleh Allah hanya akan hidup oleh Iman melalui tindakan dan kata. Setiap hal baik yang dilakukan oleh gereja (baca : orang beriman) bukanlah merupakan prasyarat atau syarat untuk memperoleh keselamatan, melainkan setiap hal baik itu merupakan respon atas keselamatan yang sudah dikerjakan oleh Allah di dalam Kristus. Oleh karena itu gereja tidak perlu lagi menciptakan doktrin-doktrin bahkan syarat-syarat keselamatan. Selanjutnya gerakan reformasi mengalami banyak perkembangan, terutama terkait dengan penekanan tugas-tugas gereja di dalam dunia, di mana penekanan tugas gereja yang muncul tersebut juga mengalami banyak perbedaan yang tidak terhindarkan katakanlah misalnya :
1. Gerakan orang-orang Albigens atau Kathar (baca : Suci-bersih) yang menekankan agar gereja kembali ke zaman rasul-rasul, di mana gereja harus hidup dalam kemiskinan agar bebas dari pengaruh benda yang merupakan sumber dosa. Mereka banyak yang mengalami kematian akibat menganggap materi, dunia diciptakan oleh Iblis termasuk makanan dianggap sebagai sumber dosa. Gerakan ini sangat dipengaruhi oleh ajaran Gnostik (Gnosis = Pengetahuan) yang ditentang oleh gereja resmi karena sangat bertentangan dengan Injil. Gerakan Albigens ini muncul pada tahun 1100 di Perancis Selatan.
2. Gerakan orang-orang Waldens (Orang-orang miskin dari Lyon) yang di pelopori oleh Petrus Waldes. Gerakan ini juga menekankan tentang hidup miskin, meninggalkan rumah, tidak boleh memiliki tempat tinggal (Mat 10) dst. Pada tahun 1177 mereka membentuk perhimpunan pengkhotbah awam untuk mentobatkan orang. Kritik mereka terhadap sekularisasi gereja sangat keras.
Gerakan-gerakan sebagaimana disebutkan di atas hanya sedikit dari gerakan-gerakan yang menekankan tidak pentingnya persoalan-persoalan fisik dalam gereja, sebab sekali lagi bahwa apa yang berbau fisik dan materi dianggap sebagai sumber dosa bagi gereja. Persoalannya benarkah demikian ?
Tuhan sendiri memberikan perintah agar segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini harus diupayakan, diterangi, digarami dan bukan dimusuhi. Demikianlah gereja dipanggil untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk, gereja juga diperintahkan untuk menunaikan tugas misi pada semua segi kehidupan baik yang bersifat fisik maupun pada lingkup dunia yang berbau rohani. Dalam arti bahwa tugas gereja dalam dunia ini bersifat menyeluruh pada tataran totalitas dunia di mana kita berada. Namun sekali lagi bahwa sampai saat ini begitu banyak perbedaan pandangan yang muncul di kalangan warga gereja tentang mana yang harus dilakukan oleh gereja dan mana yang tidak perlu dilakukan. Ada yang menganggap bahwa pelaksanaan tuhas misi pada segi pembangunan fisik termasuk pembangunan gedung gereja merupakan sesuatu yang tidak prioritas, tetapi ada juga yang menganggap bahwa hal itu merupakan salah satu tugas dan panggilan gereja sebagai bagian dari kesaksian gereja di dalam dunia. Pada segmen ini perlu dikatakan bahwa semua sisi yang merupakan tugas dan panggilan gereja adalah penting dan harus dilakukan oleh gereja secara seimbang jasmani=fisik maupun tugas-tugas rohani. Tentang gedung gereja, itu juga tidak lepas dari tugas yang harus dilakukan oleh gereja. Secara Alkitabiah, Gedung gereja adalah prasarana persekutuan (Koinonia) yang merupakan salah satu panggilan gereja. Disamping itu, Gedung gereja juga merupakan salah satu alat kesaksian yang dapat dilihat sehingga dengan demikian, gedung gereja juga merupakan firman Allah yang secara nyata dapat disaksikan oleh dunia. Gedung gereja (Baca Bait Allah) secara Alkitabiah juga merupakan representasi kehadiran Tuhan dan tempat kediamanNya di tengah-tengah jemaat (Band Ezra 77:15 ....dan untuk membawa perak dan emas, yang diberikan raja serta para penasihatnya sebagai persembahan sukarela kepada Allah Israel, yang tempat kediaman-Nya di Yerusalem, Ezra 6:12 Maka Allah, yang sudah membuat nama-Nya diam di sana, biarlah Ia merobohkan setiap raja dan setiap bangsa, yang mengacungkan tangan untuk melanggar keputusan ini dan membinasakan rumah Allah yang di Yerusalem itu. Aku, Darius, yang mengeluarkan perintah ini. Hendaklah itu dilakukan dengan seksama." II Tawarikh 6:2 Sekarang, aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya."
Pandangan yang benar dan Alkitabiah yang benar adalah bahwa segala sesuatu harus menjadi pokok perhatian gereja. Tidak ada sesuatupun yang dikerjakan oleh gereja yang terkait dengan tugas misinya di dalam dunia harus kita katakan tidak penting, tidak prioritas dan sebagainya. Yang jelas bahwa gereja harus melaksanakan semua tugas yang dipercayakan kepadanya secara seimbang Fisik, rohani, mental – spiritual dst. Diatas semuanya itu dasar pemikiran Alkitabiah Luther dalam Roma 1:17b. Harus menjadi pandangan gereja reformatoris dalam menunaikan tugas-tugasnya di dalam dunia termasuk GKST. Setiap hal yang dilakukan oleh gereja hendaklah didasari oleh Iman. Melayani di bidang sosial, kerohanian, pembangunan dan semua bidang kehidupan hendaklah dilakukan sebagai jawaban Iman atas keselamatan yang sudah dikerjakan oleh Kristus bagi dunia. Dalam pelaksanaan tugas misi gereja tidak ada ruang yang lebih besar untuk sebuah segmen sementara segmen yang lain mendapat ruang yang lebih sempit. Semua segmen mendapat dan harus diberi ruang yang sama, sehingga pertumbuhan gereja secara khusus di GKST dapat terjadi secara seimbang dan kokoh, di mana semua hal perlu mendapat touching (Sentuhan) Gereja.
Sehubungan dengan pentingnya Kesaksian Gereja melalui aktivitas Pembangunan, Dalam jangka waktu + 1 Tahun ini Jemaat Sion Wasuponda telah berupaya sekuat tenaga dan sekuat Imannya untuk memenuhi panggilan ini. Beberapa pekerjaan besar bangunan gereja telah selesai dikerjakan dengan mengimplementasikan modal kebersamaan. Aktualisasi kebersamaan ini dinyatakan melalui kegiatan Gotong Royong di lingkungan warga Jemaat, kegiatan memasak oleh ibu-ibu Jemaat yang dilakukan secara berkelompok-kelompok untuk mendukung konsumsi para tukang yang bekerja keras menyelesaikan Rumah Tuhan ini. Saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu, Bpk . Yusuf Matapu dan Bpk. Roberto De’e (keduanya adalah Panitia Pembangunan) menyatakan optimis bahwa awal Tahun 2012 rumah Tuhan ini dapat diresmikan, Bravo!
MERAMBAH KESAKSIAN DI RANAH URBANISASI;
JEMAAT IMANUEL MALILI MEMBANGUN
Membangun Gedung Gereja Sebagai Sarana Kesaksian
Jemaat Imanuel Malili adalah salah satu Jemaat GKST di Klasis Malili-Nuha yang dapat dikategorikan mapan dari segi ekonomi. Jemaat yang berada di Ibu Kota Kabupaten Luwu Timur ini boleh di bilang diberkati oleh Tuhan sebab di dukung oleh pekerjaan warga Jemaat yang cukup strategis antara lain sebagai Pegawai Negeri Sipil, Anggota Polri, Wiraswasta, berdagang, Karyawan PT. Inco dan tukang bangunan. Secara spesifik hampir dapat di katakana bahwa tidak ada warga jemaat yang berprofesi penuh sebagai petani.
Presentasi ini membuktikan bahwa warga Jemaat memiliki peluang besar dalam menghasilkan Income yang cukup dan tetap bagi keluarga. Income perkapita yang baik ini ternyata berpengaruh positip bagi Income jemaat dalam realitas sebagai sebuah organisasi gereja. Cukup baiknya pemahaman warga jemaat sehubungan dengan Ibadah-ibadah, terutama ibadah Minggu, pada “tataran tertentu” membuktikan bahwa potensi kemandirian Teologi di Jemaat ini sangat besar. Jika potensi yang begitu besar ini semakin dioptimalkan, maka dapat dipastikan bahwa jemaat Imanuel Malili akan menjadi sebuah sentrum warga gereja dalam mewujudkan persekutuan, kesaksian dan pelayanan yang ada di wilayah Malili dan sekitarnya. Asumsi ini muncul dilatarbelakangi oleh peranan Jemaat Imanuel Malili yang cukup besar di mata pemerintah Kabupaten Luwu timur, terutama dalam aktivitas-aktivitas yang berbau kepemerintahan. Disamping itu Jemaat GKST Imanuel Malili adalah Jemaat terbesar di Ibu kota Malili.
Presentasi-presentasi sebagaimana telah diungkapkan di atas, pada satu sisi merupakan peluang bagi jemaat dalam lebih jauh memerankan kiprahnya sebagai satu gereja. Sebab, jika peran-peran strategis, baik dan positip dapat diwujudkan dalam lingkungan jemaat ini, maka Jemaat Imanuel Malili secara optimal akan menjadi salah satu pioneer dan pilar penting dalam merambah kesaksian gereja yang esa di Malili dan bagi masyarakat yang hidup di kota Malili.
Sementara itu pada sisi lain, jika peran persekutuan, pelayanan dan kesaksian yang diembannya tidak dapat diperankan dengan baik, maka dapat dipastikan juga bahwa gereja yang Esa (Baca : Seluruh Gereja) yang ada di Malili sebaliknya akan menjadi “batu sandungan” di mata masyarakat Urban yang berada di Malili. Oleh karena itu, peranan positip yang semakin besar menjadi sebuah tuntutan yang tidak dapat dihindari oleh Jemaat ini pada masa-masa mendatang. Eksistensi Jemaat Imanuel Malili berada di bawah sorotan sebuah “Tantangan dan Peluang” di mata masyarakat Kota Malili.
Dalam kerangka berpikir membangun kesaksian yang kuat dan utuh ini, Jemaat Imanuel Malili sedang membangun gedung gereja yang baru. Mobilitas serta akselerasi pembangunan yang sedang dilakukan dapat dikatakan sangat baik, mengingat panitia penanggungjawab dibidang pembangunan telah bekerja bukan saja mengelola financial pembangunan yang diperoleh dari warga jemaat, tetapi panitia juga sekaligus menjadi supplier dan sekaligus donator dalam kegiatan pembangunan yang sedang dilakukan. Percepatan pembangunan ini juga sangat di dukung oleh kesadaran warga jemaat dalam memberikan dukungan dana untuk pembangunan gedung gereja yang sedang dilakukan. Disamping itu dukungan moral dan psikologis juga sangat memberi peluang di mana kegiatan pembangunan tidak mengalami hambatan. “Tahun depan kita optimis bahwa gedung gereja yang baru dapat diresmikan sehingga praktis pada masa mendatang, jemaat memikirkan hal-hal yang lain sehubungan dengan aktifitas pelayanan” demikian disampaikan oleh Bpk. Beny Moningka, salah seorang panitia pembangunan. Optimisme yang disampaikan oleh Bpk. Beny Moningka ini bukan tanpa alasan, sebab sampai dengan pengucapan syukur Jemaat tanggal 12 September 2010 yang lalu, pengerjaan plafon gedung gereja ini telah selesai dikerjakan. Sementara itu lantai 1 gedung gereja ini sepenuhnya sudah dapat difungsikan. Lantai 1 gedung gereja Jemaat ini dirancang sedemikian rupa dengan Interior yang dibuat bersekat-sekat (4 Ruangan) sebagai kantor komisi-komisi dan berfungsi sebagai konsistori. Sementara itu ruangan induk lantai 1 berfungsi sebagai meeting room, plus pada bagian belakang bangunan induk disediakan ruangan serba guna yang juga direncanakan sebagai perpustakaan jemaat. Sedangkan lantai 2 berfungsi sepenuhnya sebagai ruangan tempat Ibadah jemaat. Bangunan gedung gereja yang nota bene merupakan alat kesaksian ini dibangun dengan menelan dana tidak kurang dari 2,5 M. Kota Malili dan sekitarnya memberikan peluang besar bagi Jemaat ini untuk terus merambah karya demi sebuah misi kesaksian. Peluang-peluang yang lebih besar sedang menanti dan terus membutuhkan system manajemen yang lebih baik.
GRAHA PUBLIK GKST MALILI-NUHA ITU
SEDANG DIDANDANI
Sebuah Renungan Tentang Kantor Klasis Malili-Nuha
Adalah suatu kenyataan formal, jika institusi memiliki sebuah kantor sekaligus dari kantor itu roda manajemen institusi digerakkan. Sebagaimana laiknya institusi-institusi lain yang bergerak pada tataran organisasi, demikian pula GKST Klasis Malili-Nuha memiliki sebuah sarana perkantoran. Sebut saja kantor Klasis GKST Malili-Nuha ini sebagai “Graha Publik” di mana “Graha” atau “rumah” dalam bahasa Sansekerta itu difungsikan sebagai sarana untuk mengatur jalannya Organisasi Lokal GKST sebagai perpanjangan tangan pelayanan dari tingkat Sinodal ke Jemaat-jemaat yang ada di wilayah Klasis ini.
Disamping berfungsi sebagai sarana mengatur jalannya Organisasi GKST secara Klasikal, Graha atau kantor Klasis yang berada di seputaran Wasuponda ini juga tidak lain adalah sebuah Representasi 10 (Sepuluh) Jemaat yang ada di Klasis Malili-Nuha. Bagaimana tidak!, keadaan kantor Klasis Malili-Nuha sebagai “Graha Publik” ini memberikan gambaran tentang keadaan Jemaat-jemaat yang ada di wilayah Klasis ini. Baik - buruknya sebuah kantor Klasis Malili-Nuha memberikan gambaran tentang peduli atau tidaknya jemaat-jemaat yang ada di wilayah Klasis Malili-Nuha. Terhadap totalitas sarana yang dibutuhkan dalam rangka “Mengerjakan dan memenege” tanggung jawab pelayanan yang ada di wilayah ini. Kantor Klasis yang memadai menggambarkan bahwa Jemaat-jemaat memiliki kepedulian terhadap pelayanan dan segala fasilitas yang dibutuhkan di dalamnya. Dalam hal memberikan perhatian terhadap fasilitas gereja, tidak ada klasifikasi “Penting” dan “Tidak penting”. Jika Fasilitas Jemaat dianggap “Penting,” itu tidak berarti bahwa Kantor Sinode dan Kantor Klasis menjadi “Tidak Penting”. Semua Fasilitas gereja yang nota bene adalah sebuah kesatuan Institusi adalah penting sebab baik Gedung Gereja, Pastori Jemaat, Kantor Klasis maupun kantor Sinode mempunyai fungsi dan peranan yang sama dalam lingkup pelayanan gereja khususnya di GKST. Semua Fasilitas ini baik gedung gereja, Pastori Jemaat, Kantor Klasis dan Kantor Sinode secara Comprehensive (menyeluruh) adalah “Graha Publik” GKST yang dipergunakan untuk menatalayani pekerjaan pelayanan gereja.
Dahulu….., waktu kami masih kuliah, ketika mendengar tentang nama sebuah Klasis yaitu Klasis Malili-Nuha, hati kami bergetar sembari ada rasa kagum yang luar biasa. Karena Konon katanya….Di Klasis ini beredar banyak dolar…, sebab wilayah di mana Klasis ini eksist terdapat sebuah Perusahaan Raksasa multinasional yang bergerak di bidang Mining (Pertambangan). Lagi-lagi hati kami bergetar ketika banyak orang mengabarkan ke telinga kami bahwa daerah ini diberi title sebagai “Daerah Dolar.” Jujur saja, kami ragu-ragu kalau-kalau kami suatu saat jika sudah jadi Pendeta di tempatkan di daerah ini. Maklum, waktu itu kami belum begitu akrab dengan keadaan-keadaan yang sedemikian maju yang disampaikan melalui pendengaran kami.
Ternyata benar, bahwa ketakutan itu terbukti! Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat pula diraih. Majelis Sinode menempatkan kami untuk melayani di Klasis Malili-Nuha. Menolak tidak mungkin….., ini panggilan Tuhan.., maju…., ada keraguan bahkan ketakutan. Pikiran kami dihantui oleh 1001 pertanyaan : “Mungkinkah kami melayani di wilayah Klasis Malili-Nuha yang menurut pendengaran kami begitu maju?” Di tengah kalutnya pikiran, tertekannya bathin, kami harus mengayunkan kaki dan melangkah untuk menunaikan tugas pelayanan yang Tuhan percayakan. Dengan tekad yang bulat, berangkatlah kami ke sebuah Klasis yang konon katanya begitu maju dan luar biasa ini. Setibanya di Klasis Malili-Nuha ternyata realitas yang ada bagaikan berbedanya antara langit dan bumi, berbedanya antara api dan air, tiada kilat tiada petir, tetapi hujanpun turun. Apa artinya ini?....analogi yang akronim ini menggambarkan tentang betapa berbedanya keadaan di Klasis ini dari apa yang kami dengar dan yang kami lihat. Ternyata secara umum, Klasis ini tidak berbeda dengan Klasis-klasis lain yang keadaannya masih terkebelakang. Menyesali keadaan lalu lari dari tanggung jawab pelayanan? Tidak! Keadaan ini harus dihadapi sebesar apapun resikonya! Hanya satu tekad dalam nurani : “Transformasi, perubahan….,Ya…perubahan harus dilakukan.
Salah satu fasilitas gereja yang mendapat perhatian khusus dan serius ketika itu adalah sebuah rumah pelayanan yang kami kunjungi pertama kali pada tanggal 09 Maret 1998 di Wasuponda yang katanya pusat Klasis Malili-Nuha. Yang lebih menyedihkan lagi, rumah panggung reot itu katanya “Kantor Klasis Malili-Nuha”. Tetapi yang sangat luar biasa adalah bahwa “Hamba Tuhan” yang menempati “Kantor Klasis” itu tetap memiliki semangat pelayanan. Dalam bimbingan beliaulah kami menjadi Pendeta dan pelayan Tuhan sampai saat ini.
Sekarang 10 Tahun sudah warga GKST Di Klasis Malili-Nuha berada di abad 21, menapakan kaki dan berkiprah di medan pelayanan. Tetapi Fasilitas gereja, Graha Publik GKST yaitu Kantor Klasis “Kita” masih dalam keadaan memprihatinkan. Meskipun sampai dengan berita ini ditulis, Renovasi 2 kamar dan pengerjaan Plafon telah diselesaikan, tetapi masih ada hal-hal prioritas yang harus diselesaikan seperti Tegel lantai, WC dan Kamar Mandi. Oleh karena itu, Majelis Klasis Malili-Nuha sangat mengharapkan dukungan baik dana maupun doa dalam rangka penyelesaian kantor ini, sehingga Publik GKST di Klasis Malili-Nuha bisa berharap bahwa seluruh Program Pembangunan Kantor Klasis di Wasuponda dapat diselesaikan pada Tahun 2010 ini.
Selanjutnya “Graha Publik GKST Malili-Nuha” ini dapat dipergunakan sebagai fasilitas pelayanan yang memadai. Dalam Sharing para pendeta GKST Klasis Malili-Nuha setiap tanggal 05 bulan berjalan, Majelis Klasis bertekad bahwa Kemandirian Teologi, Daya Dan Dana di Klasis ini ditargetkan bisa terwujud pada tahun 2018 yaitu 2 tahun menjelang Free Trade (Perdagangan bebas) 2020. Dari Kantor Klasis inilah semua program Kemandirian itu dikelola. Baiknya keadaan kantor Klasis akan memberikan prestise yang lebih baik kepada warga gereja yang ada wilayah Klasis ini. Prestise yang baik merupakan gambaran buah-buah Iman 10 Jemaat yang ada di Klasis ini. Kita berupaya merubah “Image” tentang Klasis ini jangan sampai terus berkembang “Image” Daerah dolar, tetapi fasilitas gereja kita memprihatinkan! Kita bangun mental kita, spiritual kita dari tingkat Jemaat-Klasis sampai Sinode untuk kemuliaan Tuhan.
PARA SEKRETARIS, BENDAHARA DAN KOSTOR JEMAAT
MENGIKUTI PEMBINAAN TINGKAT SINODAL
Sorotan Berita Dari Tentena
Sejak sore hari tanggal 15 Maret 2010, gedung gereja Jemaat Moria Tentena dipadati oleh ratusan peserta Pembinaan yang diselenggarakan oleh Departemen Pembinaan Warga Gereja (DPWG-GKST). Pembinaan ini diselenggarakan secara Sinodal atas nama Sinode GKST yang terus concern dengan kebutuhan pelayanan yang semakin kompleks. Program ini dilaksanakan sekaligus dalam rangka menjawab Tuntutan zaman terkait dengan sistem administrasi gereja yang perlu untuk terus ditingkatkan. Salah satu out put yang diharapkan adalah agar gereja tidak berada di garis belakang dalam hal praktek dan Pengelolahan sistem Administrasi. Oleh karena itu, secara full time, pada tanggal 16 Maret 2010, para sekretaris Jemaat se-GKST menerima Materi Pembinaan terkait dengan tugas dan tanggung jawab kesekretarisan di Jemaat masing-masing. Ibadah Pembukaan tanggal 15 Maret sore hari dipimpin oleh Vik. Ebenhaezer Papasi, MTh (Anak ke-2 dari Pdt. M. Papasi, MTh) yang saat ini menjalani masa Vikariat di Jemaat Rampi, Klasis Rampi, Sulawesi Selatan. Lebih spesifik lagi bahwa Pembinaan para Sekretaris Jemaat se-GKST ini sebetulnya memberikan beberapa pemahaman penting yaitu :
1. Para sekretaris Jemaat adalah merupakan motor penggerak organisasi, terutama dalam organisasi gereja atau jemaat di mana mereka memikul tanggung jawab. Perjalanan Organisasi Jemaat sangat ditentukan oleh Kinerja seorang Sekretaris yang dapat menentukan beberapa hal : Kebijakan-kebijakan untuk melaksanakan Rapat-rapat, membuat surat-surat Keluar, meregistrasi surat-surat keluar-masuk, membuat nomor-nomor surat sesuai dengan kaidah-kaidah penomoran surat, membuat Surat Atestasi, Rekomendasi, Surat-surat Keterangan, dan seterusnya terkait dengan Administrasi Jemaat.
2. Tanggung jawab sekretaris Jemaat (Juga semua Sekretaris dalam organisasi gereja) tidak hanya terkait dengan tugas-tugas administrasi, tetapi yang terpenting bahwa seorang sekretaris memiliki tugas dan tanggung jawab Theologis dalam bidang pelayanan gereja, mengingat bahwa Sekretaris adalah merupakan elemen dari Pengurus Harian dalam tugas-tugas gereja.
Sebagian besar sekretaris Jemaat belum memahami Tugas-tugas dan tanggung jawab ini, di mana kealpaan ini membawa ekses (Pengaruh) buruk dalam perjalanan organisasi Jemaat. Dari pihak peserta; ada beberapa hal pokok penting sempat mencuat dan dimunculkan selama Kegiatan Pembinaan berlangsung yaitu tentang penempatan posisi KOP surat. Ada yang menempatkan pada bagian tengah Ujung kertas, ada yang menempatkan pada sisi kiri ujung atas, ada juga yang menempatkan KOP pada bagian sisi kanan ujung kanan kertas. Tentang penempatan KOP ini memang tidak ada ketentuan baku dalam sistem Administrasi persuratan. Para Sekretaris dapat menempatkan sesuai dengan selera masing-masing baik di bagian tengah, kiri maupun kanan pada bagian TOP (Ujung Atas) kertas, tetapi bagaimana isi dan maksud sebuah surat itulah yang terpenting, demikian dijelaskan oleh Pdt. Ishak Pole, Msi (Ketua Umum MS-GKST) salah satu pemateri. Selanjutnya para peserta juga menginginkan keseragaman Format Surat Atestasi, Rekomendasi dan Surat-surat keterangan dan kode-kode nomor Surat. Materi-materi ini memang tidak masuk dalam Pembinaan padahal Materi-materi ini merupakan pengetahuan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar sekretaris Jemaat di GKST. Terkait dengan masalah ini; Pdt. Feliks Laudy Anthonie, M. Theol berjanji akan mengirimkan Format-format yang dibutuhkan tersebut ke jemaat-jemaat, sehingga format tersebut paling tidak, dapat dijadikan sebagai acuan oleh para sekretaris Jemaat dalam mengeluarkan surat-surat sebagaimana yang dimaksudkan.
Pemateri dalam Pembinaan ini adalah Ketua Umum MS-GKST, Pdt. Ishak Pole, Msi, Sekretaris Umum MS-GKST dan Wakil Bupati Morowali, DRS. SU. Marunduh, M. Hum. Sedangkan peserta (Para Sekjem) Malili-Nuha yang antusias dalam mengikuti Pembinaan ini adalah :
1. Pnt. Setiono Tengkano ( Sekjem Sion Wasuponda )
2. Pnt. Benyamin Basisi ( Sekjem Imanuel Malili )
3. Pnt. Atoni Lanengka ( Majelis Jemaat Sion Landangi )
4. Pdt. H. Lombu’u, SmTh (Ketua Majelis Jemaat Kel. Keb. Atue) sekaligus Majelis Klasis Pendamping
5. Dkn. Harun Lobo ( Sekjem Eirene Togo )
6. Pnt. Bertin ( Sekjem Efrata Koropansu )
7. Pnt. Ely Palunsu ( Sekjem Maranatha Kawata )
8. Pnt. Risnayani Ndelawa ( Sekjem Tiberias Matompi)
Ketika para sekretaris Jemaat ini kembali ke Malili-Nuha, meskipun wajah terlihat lelah, tetapi dengan penuh semangat mereka menceritakan pengalaman dan Ilmu yang mereka peroleh di Tentena. Bahkan mereka bertekad untuk segera mengimplementasikan pengetahuan itu dalam pelaksanaan tugas-tugas kesekretarisan di Jemaat masing-masing. Team Redaksi Buletin Klasis mengucapkan selamat menunaikan tugas di jemaat masing-masing.
Selanjutnya secara Formal, pembinaan-pembinaan seperti ini sangat penting untuk diikuti oleh para pelayan di Jemaat, sebab memberikan nilai plus terkait dengan Informasi yang dibutuhkan terkait dengan pelaksanaan tugas-tugas di Jemaat. Tidak ada Kegiatan yang tidak memberi manfaat, apalagi Dalam rangka menuju pada Kemandirian Daya Para Pelayan GKST, maka pembinaan-pembinaan seperti ini akan menjadi salah satu strategy yang baik di mana setiap tugas-tugas Organisasi diharapkan dapat dilaksanakan secara efektif. Pada Tanggal 28 Mei 2010 juga akan dilaksanakan Pembinaan secara Sinodal di Tentena dengan menghadirkan para Bendahara-bendahara Jemaat se-GKST. Dan yang lebih spectakuler adalah bahwa setelah pembinaan Bendahara, secara Sinodal telah dilaksanakan Pembinaan bagi para Kostor se-GKST yang juga dilaksanakan di pusat GKST Tentena.
HUT DAN PEMBINAAN REMAJA KLASIS MALILI-NUHA ;
“MANUSIA TRANSISI”
Pantai Ide Soroako, 03 September 2010
Masa Remaja adalah sebuah masa yang sangat unik dalam fase kehidupan manusia. Pada masa ini, seorang anak atau sosok manusia sedang mengalami perubahan untuk menjadi orang dewasa. Perasaan, pikiran dan perilaku manusia pada usia ini sering mengalami perubahan. Tingkah laku manusia pada usia remaja bukan saja berubah-ubah, tetapi juga sering kali saling bertentangan.
Saat warga gereja memasuki era kehidupan dengan menggunakan system komunikasi global, kita bahkan anak-anak Remaja di sodorkan dengan berbagai kemudahan untuk mengakses berbagai Informasi baik melalui Media cetak, TV, Internet, buku-buku, Media Ponsel, CD dan DVD yang beredar begitu bebas. Perubahan system Informasi global ini pada satu sisi memberikan manfaat yang sangat besar bagi umat manusia. Tetapi Setiap fenomena perkembangan zaman yang yang terjadi juga membawa dampak atau ekses-ekses yang tidak selamanya baik. Tetapi sekaligus, dampak yang buruk itu dapat dikurangi bahkan dihindari selama konsumen (Baca : Pengguna) memiliki sikap yang kuat (Bijak,Positip) untuk memanfaatkan sesuatu secara selectif dan tepat guna.
Pada representasi inilah persoalan yang di hadapi oleh Remaja GKST di lingkungan Klasis Malili-Nuha. Penyaring, Filter Internal di lingkungan Remaja kita masih sangat rapuh. Dalam konteks era perubahan system Informasi ini banyak orang tua kehilangan daya dalam mendidik dan membangun basic Etika, Moral dan spiritual anak-anak remaja. Hilangnya daya mendidik ini sangat disebabkan oleh kurangnya “Cocern” (Kepedulian, keprihatinan) orang tua terhadap anak-anak mereka yang telah memasuki usia Remaja. Perubahan system Informasi yang begitu luas dan kurangnya penanaman basic etika, moral dan spiritual dari orang tua terhadap anak-anak remaja mengakibatkan banyaknya timbul kenakalan remaja yang bukan saja merambah remaja pada umumnya, tetapi juga Remaja GKST di wilayah Klasis Malili-Nuha. Kenakalan remaja yang dimaksud adalah : Perbuatan nakal, perbuatan yang tidak benar dan bersifat mengganggu ketenangan orang lain; tingkah laku yang melanggar norma kehidupan masyarakat disekitar. Santrock, seorang Psikolog mengatakan : “Kenakalan Remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku ramaja yang tidak dapat diterima secara social, hingga terjadi tindakan criminal.” Jadi kenakalan Remaja adalah meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum serta peraturan yang berlaku yang dilakukan oleh Remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang yang ada disekitarnya. Free seks, Miras, Narkoba dsb merupakan buah-buah dari perilaku yang dimulai dari kenakalan remaja.
Kata Remaja berasal dari kata latin “Adolescere” yaitu keadaan manusia yang mencakup kematangan mental, emosional, social dan fisik. Usia remaja adalah usia yang sering disebut sebagai “Gold Age” atau usia emas, maksudnya adalah bahwa usia ini merupakan saat-saat penentuan pengisian jati diri bagi seorang anak untuk memasuki usia dewasa. Apa yang terisi dalam dirinya pada masa Remaja, itu jugalah yang akan membentuk karakteristik selanjutnya ketika ia memasuki usia dewasa. Untuk membentuk karakteristik ini perlu intervensi kuat baik dari pihak orang tua, pemerintah maupun gereja, sehingga Intervensi positif ini diharapkan memberikan kontribusi bagi remaja gereja khususnya untuk menjadi Remaja yang benar-benar Kristiani dalam perilaku, karya dan tindakan.
Sehubungan dengan tanggung jawab ini, Komisi Remaja Klasis Malili-Nuha dalam koordinasi Program dengan Majelis Klasis Malili-Nuha, telah dilakukan Pembinaan bagi Remaja GKST di wilayah pelayanan Klasis Malili-Nuha dengan 2 (Dua) Materi Pokok yaitu :
1. MENJADI REMAJA YANG KRISTIANI : Pdt. Ni Wayan Souvi Ruthari Parwata, MTh. Dalam membahas materi ini Pdt. Ruth menekankan tentang perilaku-perilaku, keadaan phisik dan psikhis yang sering kali di alami oleh Remaja gereja pada saat mereka memasuki usia ini. Perilaku-perilaku ini sangat penting untuk dikenali sehingga dalam bimbingan orang tua, gereja dan sekolah, perilaku-perilaku itu tidak mencemaskan, tetapi diarahkan pada hal-hal yang positip sebagai dasar pembentukan karakteristik yang baik di kemudian hari.
2. MENGAPA ATURAN DIPERLUKAN? : Pdt. I Wayan N. Adiwijaya. Materi ini dibawakan dalam bentuk Diskusi dan Tanya Jawab dengan anak-anak remaja. Dalam Tanya Jawab ternyata ada Indikasi bahwa anak-anak Remaja Gereja kita sudah mulai memiliki pemahaman yang baik terkait dengan aturan. Ada yang mengatakan “bahwa aturan diperlukan agar tidak terjadi tindakan semena-mena terhadap sesama, agar kehendak Tuhan dapat dilakukan, agar remaja gereja dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk sehingga mereka tidak terjerumus ke dalam perilaku-perilaku buruk yang tidak dikehendaki Tuhan”. Masa Remaja adalah saat di mana kebebasan menjadi kehendak utama, tetapi jika kebebasan dan kehendak itu tidak dibarengi dengan memperkenalkan aturan maka kita tidak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi atas anak-anak Remaja “Kita”.
Kegiatan Pembinaan yang dirangkaikan dengan Hut Remaja GKST ini dilaksanakan di tepian danau Matano, Pantai Ide Soroako Pada tanggal 03 September 2010. Mari kita semakin giat membina anak-anak Remaja “Kita”.
YANG MELAYANI, YANG DI BINA
“SEMUA MASIH PERLU BELAJAR TENTANG
HAKEKAT PELAYANAN GEREJA”
Info Pembinaan Pelayan Se-Klasis Malili-Nuha
Moria Angkona, 09 September 2010
Di dunia ini tidak ada yang perfec (Sempurna), semua masih memiliki keterbatasan. Sepanjang kita dan semua orang masih menyadari apa arti keterbatasan yang ada pada dirinya masing-masing, maka kita pasti akan terus belajar dan belajar untuk sedikit mengurangi segala keterbatasan itu. Tetapi ada banyak orang yang dengan sengaja melakukan kesalahan-kesalahan yang seharusnya tidak perlu dan menggunakan kata “keterbatasan” sebagai tameng untuk melindungi (To Proteckted) diri agar orang lain bahkan maunya supaya Tuhan mentolerir setiap kesalahan yang dilakukannya. Golongan ini tidak akan pernah berpikir untuk belajar dari setiap pengalaman yang salah untuk menuju pada sebuah pembenahan kehidupan yang lebih baik. Mereka akan terus melakukan kesalahan yang sama dan selalu melontarkan ungkapan : “Akh...semua manusia punya keterbatasan” sebagai tameng agar diberikan dispensasi oleh orang lain bahkan oleh Tuhan ketika mereka berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama. Golongan orang-orang seperti ini sangat sulit untuk berubah dan tidak akan pernah mau belajar untuk menjadi lebih baik, mereka akan terus menjadi Trouble Maker (Pembuat keributan dan masalah) dalam suatu lingkungan bahkan dalam lingkungan persekutuan jemaat. Jika kita menganalisa secara cermat, sebetulnya banyaknya masalah yang terjadi disekitar pelayanan Gereja pada semua arasy, penyebab utama atau akar masalahnya disebabkan karena kurangnya pemahaman warga gereja bahkan juga Sumber Daya Manusia pelayan yang masih perlu dibenahi dari waktu ke waktu.
Menyadari arti sebuah keterbatasan, pada Tanggal 09 September 2010 telah dilaksanakan Pembinaan Pelayan untuk semua arasy di Klasis Malili-Nuha : Majelis Jemaat, Pendeta, Komisi-komisi Kategorial, BPKP bahkan beberapa kostor Jemaat di lingkungan Klasis Malili-Nuha juga menyediakan waktu sehari untuk mengikuti pembinaan.
Program ini dilaksanakan dengan mengacu pada Program Klasis Malili-Nuha Tahun 2010 yang diputuskan di Jemaat Eirene Togo, sebuah jemaat yang bertetangga dengan jemaat Sion Wasuponda, Klasis Malili-Nuha. Program Pembinaan SDM Pelayan ini dilaksanakan di Jemaat Moria Angkona, salah satu jemaat di ujung Barat Klasis Malili-Nuha. Setting pembinaan ini dilakukan sebagai tanggung jawab Majelis Klasis dalam Koordinasi dengan Majelis Jemaat Moria Angkona sebagai tempat penyelenggaraan. Ketika di konfirmasi tentang kesiapan pelaksanaan Pembinaan di Jemaat yang dipimpinnya, Pdt. Ni Wayan Souvi Ruthari, MTh menyatakan siap menjadi Panitia penyelenggara sekaligus sebagai tuan rumah. Ketika pembinaan berlangsung, komitmen yang disampaikan oleh Pdt. Ni Wayan Souvi Ruthari, MTh ternyata bukan sekedar ucapan kosong belaka, sebab kenyataannya bahwa dalam komando beliau, pembinaan pelayan se-Klasis Malili-Nuha dapat terselenggara dengan baik. Hal ini terbukti dengan tersedianya ruangan gedung gereja yang memadai sebagai tempat dilaksanakannya pembinaan, demikian juga dengan akomodasi dan konsumsi yang dipersiapkan sungguh tidak mengecewakan Nara Sumber bahkan semua peserta yang hadir.
Tidak tanggung-tanggung! 104 orang pelayan ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Angka yang disebutkan ini merupakan salah satu rekor terbesar dalam sejarah keikutsertaan para pelayan dalam kegiatan-kegiatan pembinaan selama ini. Dua Materi yang sangat urgent sekaligus menjadi kebutuhan pokok dalam rangka Pembenahan Sumber Daya Pelayan adalah Issue penting terkait dengan Implementasi Visi dan Misi GKST Tentang Kemandirian Teologi, Daya Dan Dana sebagai bagian penting dari tugas dan tanggung jawab gereja. Dalam Presentasinya, Pdt. Ishak Pole Msi (Ketua Umum MS-GKST) menyampaikan Yang dimaksud dengan kemandirian Gereja adalah “suatu upaya bersama dan terus-menerus mengembangkan seluruh kemampuan (potensi) dan pemberian Tuhan secara bebas dan bertanggung jawab bagi persekutuan, kesaksian dan pelayanan. Melalui proses kebersamaan itu gereja menuju “kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” ( Efesus 4 : 13 b ). Kemandirian berarti memiliki kepribadian yang dapat berdiri sendiri dalam hubungan secara langsung dengan Kristus sebagai sumber segalanya. Ketergantungan kepada Kristus ini membawa setiap orang pada “kesatuan iman” ( Efesus 4 : 13 a ), untuk saling membantu dalam menciptakan kemandirian, baik antara seorang dengan yang lain; satu jemaat dengan jemaat lainnya, antara satu gereja dengan gereja lainnya; dalam dan luar negeri”. Demikian diungkapkan oleh Pdt. Ishak Pole, Msi. Kehadiran beliau dalam Pembinaan ini adalah untuk mengisi undangan Majelis Klasis untuk membawakan materi tentang : KEMANDIRIAN GEREJA.
Materi ini benar-benar merupakan materi yang sangat Urgen sehubungan dengan tugas dan tanggung jawab semua pelayan GKST dan di Klasis Malili-Nuha khususnya. Dengan disampaikannya materi ini Majelis Klasis sebagai pihak penyelenggara berharap bahwa semua pelayan Tuhan baik Pendeta, Majelis Jemaat, Komisi-komisi Kategorial, BPKP, Panitia Pembangunan maupun Kostor dapat mengoptimalkan diri dalam mewujudkan Kemandirian Jemaat di Bidang Teologi, Daya dan Dana yang merupakan Idealisme GKST ini.
Tentang apa yang harus dilakukan dalam rangka mewujudkan Kemadirian Teologi Daya dan Dana di dalam Jemaat, Pdt. Ishak Pole juga memberikan beberapa rumusan penting yaitu :
Di Bidang Teologi : Meletakkan dasar iman yang teguh bagi generasi muda gereja : Sekolah Minggu, Remaja, Pemuda, dan Katekisasi Siidi, Pemberitaan firman Tuhan yang efektif: Khotbah, PA, Katekisasi Pra-Nikah, Membahas isyu-isyu aktual dan kotekstual.
Di Bidang Daya : Mandiri di bidang daya, adalah pencapaian kualitas sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan di berbagai bidang kehidupan dan lapangan kerja. Indikatornya adalah semakin banyaknya warga gereja yang mempunyai tempat dan peranan dalam masyarakat dan gereja. Mendorong, mencari peluang dan fasilitas bagi warga gereja untuk mendapatkan pendidikan yang memadai, Program kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan di segala aras, Merangsang minat baca warga gereja, Pembinaan dan pelatihan mendapat porsi yang cukup dalam RAPB.
Di Bidang Dana : Kemandirian di bidang dana adalah tercapainya kondisi ekonomi warga gereja yang memadai; tercapainya tingkat kesejahteraan warga gereja yang memadai; dan semakin panjangnya usia harapan hidup manusia. Memberikan pengetahuan dan ketrampilan dalam penatalayanan keuangan pribadi, keluarga, masyarakat dan gereja. Usaha serius dan terus-menerus di bidang pemberdayaan ekonomi warga gereja. Menerapkan Etos kerja Protestan: rajin, ulet, tekun, dan hemat. Setiap orang dan keluarga punya perencanaan ekonomi ( Visi dan Misi di bidang ekonomi ), dan Pada gilirannya warga gereja memiliki motivasi memberi persembahan yang terbaik untuk Tuhan.
Apa yang disampaikan oleh Pdt. Ishak Pole ini merupakan sebuah tanggung jawab besar yang harus diemban oleh pelayan-pelayan Tuhan yang ada di lingkungan Klasis Malili-Nuha. Merealisasikan Program Kemandirian ini Jemaat ini membutuhkan keseriusan berpikir, bergumul dan memberi diri sepenuhnya untuk melaksanakan tugas ini. Seorang Pendeta, Majelis, Komisi yang hanya bisa berkhotbah di mimbar, tidak akan mampu membawa Jemaat pada tataran kemandirian yang diharapkan. Dalam mewujudkan Program ini sangat dibutuhkan seorang Pendeta Jemaat yang penuh perencanaan, analisis dan kerja kerja keras untuk mewujudkan itu.
Materi kedua yang tidak kalah pentingnya adalah tentang MEMPERSIAPKAN KHOTBAH DAN PA yang disampaikan oleh Pdt. M. Ag. Podengge. Materi ini dipresentasikan dalam rangka menjawab persoalan semua unsur pelayan di Klasis ini tentang bagaimana mempersiapkan khotbah dan PA secara Mandiri. Banyak unsur atau komponen pelayan yang sampai hari ini belum bisa membuat khotbah dan PA secara Mandiri. Memang harus diakui bahwa disiplin Ilmu yang dimiliki oleh Para Pelayan tidak seluruhnya disiplin Ilmu Teologi. Tetapi berteologi adalah bagian dari tugas dan tanggung jawab yang harus bisa dilakukan oleh semua unsur pelayan. Dengan keseriusan dan penyerahan (Devosi) kepada Tuhan, Mempersiapkan, Membuat dan menyampaikan PA akan dapat dilakukan oleh siapapun dalam tuntunan Roh Kudus, demikian disampaikan oleh Pdt. M. Ag. Podengge saat presentasi materi berlangsung.
Dengan dilaksanakannya Pembinaan Pelayan di Klasis Malili-Nuha pada tahun ini, secara praktis semua komponen pelayan telah terbekali dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab di Jemaat masing-masing. Selanjutnya Majelis Klasis akan terus berupaya untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pembinaan seperti ini dengan melihat materi-materi pokok yang dibutuhkan oleh semua komponen pelayan yang ada di wilayah Klasis ini. Majelis Klasis juga berharap bahwa setiap pengetahuan yang telah diterima melalui pembinaan-pembinaan seperti ini dapat diaktualisasikan dalam kegiatan-kegiatan pelayanan di Jemaat masing-masing. Semua komponen Pelayan yang ada di wilayah Klasis Malili-Nuha memiliki Tugas dan tanggung jawab bersama untuk mewujudkan Program Kemandirian ini melalui keseriusan dalam menentukan Program, dalam keseriusan menganalisa serta menjawab kebutuhan-kebutuhan jemaat di bidang Kemandirian Teologi, Daya Dan Dana. Harapan-harapan ini disampaikan oleh Majelis Klasis pada sambutan penutupan kegiatan Pembinaan.
RERUMPUTAN DAN RUMPUN DENGENG
BERUBAH MENJADI KEBUN KELAPA SAWIT
Geliat Ekonomi Jemaat Efrata Koropansu
Akselerasi ledakan sebuah perubahan tidak terjadi apabila pelatuk picu ledak perubahan itu tidak ditarik. Senjata seampuh apapun tidak akan pernah meledak jika pelatuk picu ledaknya tidak ditarik. Keampuhan senjata sangat ditentukan ketika ia meledak saat picu pelatuk ledaknya ditarik. Alhasil, senjata itu akan menghancurkan apa saja ada di depannya.
Sebuah perubahan tidak akan terjadi jika tidak ada yang memicunya. Sepanjang ada pemicu dan alat picu dapat berfungsi dengan baik, maka perubahan akan segera terjadi. Meskipun perubahan itu terjadi melalui sebuah proses, sebab proses adalah sebuah hukum alam yang harus dilalui oleh apa dan siapapun yang menginginkan perubahan itu.
Jemaat Efrata Koropansu adalah salah satu Jemaat di Klasis Malili-Nuha yang memiliki potensi ekonomi yang cukup menjanjikan. Betapa tidak, karena lahan-lahan masih cukup luas sehingga potensi ini memberikan ruang yang cukup untuk pengembangan ekonomi Jemaat (Economic Development). Tetapi selang beberapa tahun lahan-lahan Jemaat ini hanya dibiarkan ditumbuhi oleh rerumputan dan rumpunan pohon dengeng yang subur. Untuk konteks Koropansu, rumput dan dengeng tidak memberi nilai tambah secara ekonomis, karena ternak-ternak warga Jemaat masih dapat merumput di hamparan padang luas tanpa mengalami kesulitan. Sementara pohon dan buah dengeng juga belum dapat memberi arti secara ekonomis bagi Jemaat ini. Disamping masyarakat dan jemaat belum mengetahui tekhnik pengolahan buah dengeng menjadi industri makanan, warga jemaat juga bukan type masyarakat industri yang selalu kreatif dalam mengolah sesuatu sehingga memberi nilai ekonomis.
Potensi Sumber Daya Alam yang tersedia ini seharusnya dapat diberdayakan untuk memberi manfaat secara ekonomis bagi jemaat. Tetapi diantara realitas dan harapan ini terjadi kesenjangan yang tiada bertara. Potensi Sumber Daya Alam melimpah, tetapi ekonomi jemaat mengalami keterpurukan. Secara statistic, Jemaat Efrata Koropansu memiliki anggota yang cukup, sehingga rasio ini memberikan kemungkinan bahwa segala potensi yang memberi nilai ekonomis sebagai bagian dari upaya peningkatan ekonomi jemaat dapat diberdayakan. Jika semua resources (Sumber Daya) ini benar-benar diberdayakan secara optimal, maka dapat dipastikan bahwa Jemaat ini tidak akan mengalami situasi terpuruk secara ekonomis.
Selang tahun-tahun terakhir ini, ternyata penghasilan Jemaat secara financial baik yang bersifat Konvensional (Persembahan) maupun non convensional (Penghasilan-penerimaan bukan bersifat persembahan) sama sekali belum mampu membiayai Program dan biaya operasional lainnya, termasuk gajih pendeta. Karena gajih pendeta masih dibayarkan dari Sinode sebesar 30% ditambah dana kebersamaan Klasis yang jumlahnya tidak seberapa besar.
Realitas ini mendorong Majelis Klasis untuk terus mengarahkan warga Jemaat untuk tidak berpangku tangan dan “Pasrah” begitu saja dengan keadaan yang memprihatinkan ini. Pada Rapat Jemaat tahun 2010, Majelis Klasis mendorong warga jemaat untuk secara aktif menerapkan kegiatan-kegiatan pemberdayaan. Lahan-lahan jemaat yang ada bahkan yang nyaris dijual untuk kelanjutan pembangunan gedung gereja diupayakan supaya ditanami dengan tanaman-tanaman komoditi seperti palawija jagung dan tanaman jangka panjang yaitu kepala sawit. Hal ini dimaksudkan agar jemaat memperoleh income lain selain income yang bersumber dari persembahan. Usaha-usaha Jemaat seperti ini ternyata memberikan dampak positip bagi jemaat-jemaat yang secara dewasa melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi seperti ini.
Lahan-lahan “Tidur” milik jemaat Efrata Koropansu yang beberapa waktu hanya ditumbuhi oleh rerumputan dan rumpunan pohon dengeng hutan, kini telah berubah menjadi lahan-lahan yang sudah menghasilkan. Bahkan dalam kunjungan pelayanan Majelis Klasis ke Jemaat ini pada hari Minggu, 22 Agustus 2010, semua lahan-lahan Jemaat seluas + 1,5 Ha itu telah ditanami Kelapa sawit, Ketela pohon, sayur-sayuran bahkan diantara tanaman kepala sawit juga telah ditanami jagung. Semua pengolahan lahan dilakukan secara bergotong royong oleh seluruh warga Jemaat Efrata Koropansu.
Saat dilakukan percakapan dengan Pdt. Nurlian Wati Lengka, STh, (Pendeta Jemaat Efrata Koropansu) sehubungan dengan dukungan dan antusiasme warga jemaat sehubungan dengan program ini, beliau mengatakan bahwa : “Sebagian besar warga Jemaat memberikan respon positif, dan warga jemaat secara sukarela mendukung program ini melalui kegiatan gotong royong dalam pengolahan lahan”. Demikian diungkapkan oleh Pdt. Nurlian, komandan baru di jemaat Efrata Koropansu menggantikan pendeta sebelumnya.
Pelaksanaan Program Pemberdayaan dengan cara mengoptimalkan potensi warga jemaat ini tidak lepas dari upaya-upaya memicu warga jemaat untuk secara aktif berperan dalam program peningkatan ekonomi jemaat. Program-program seperti ini akan terus dilakukan di Klasis Malili-Nuha sebagai Implementasi dari rumusan Misi GKST , Visi dan Misi Klasis ini untuk mengoptimalkan Potensi Seluruh Warga Gereja kea rah Kemandirian Teologi, Daya Dan Dana.
Mengenai apa yang dilakukan di Jemaat Efrata Koropansu sehubungan dengan program Pemberdayaan ini sudah tentu tidak lepas dari upaya berpikir, menganalisa dan mengupayakan transformasi jemaat yang dilakukan oleh Pdt. Nurlian Wati Lengka STh sebagai seorang pemimpin baru di Jemaat ini.
Jika kita sempat beranjangsana ke Jemaat ini walau hanya sesaat, kita akan menyaksikan bibit-bibit kelapa sawit yang sudah cukup dewasa mulai menggeliat mengeluarkan tunas-tunas baru dengan akar-akar pertumbuhan yang mulai merambat menghisap makanan pada tanah di mana ia ditanam oleh warga jemaat. Pertumbuhan palem-palem tanaman komoditi ini mulai mengalahkan rerumputan dan pohon dengeng yang dahulu hidup seolah tak berguna di tempat ini. Rerumputan dan batang-batang dengeng yang berdiri angkuh tak beraturan, tetapi tidak memberi manfaat ekonomis bahkan menjadi “racun” bagi pandangan mata, sekarang telah dikalahkan oleh jejeran kelapa sawit yang mulai menghijau natural. Realitas ini mampu dan sanggup merefresh sampai ke seluruh bagian otak kita. Anggukan-anggukan lembut setiap pelepah kelapa sawit yang diterpa angina pegunungan merupakan isyarat anggukan jemaat yang mau mendengar “Suara-suara Pembaharuan” yang diperdengarkan oleh pemimpin jemaatnya. Geliat pertumbuhan dan anggukan itupun merupakan sebuah isyarat bahwa jemaat masih merasa perlu untuk dibimbing oleh pemimpin. Semua ibarat-ibarat itu merupakan isyarat bahwa jemaat juga siap untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Dengan bermodalkan kebun kelapa sawit seluas 1 Ha, Kebun cokelat + 1 Ha dan lahan untuk komoditi lainnya seluas + 0,5 Ha yang dikelolah secara baik dan optimal, kita berharap bahwa 3-5 tahun ke depan jemaat ini akan menjadi salah satu jemaat yang mengalami kemandirian Dana di Klasis Malili-Nuha.
Sebuah Rumus : Mau Mendengar Suara Pembaharuan Pemimpin + Tidak angkuh + Tidak Banyak membuat Masalah di Jemaat + Kerelaan berkorban + Iman = Kesejahteraan/Damai Sejahtera. Lawannya adalah : Ketertinggalan, kacau balau dan memalukan!
MENGEMBANGKAN SAYAP, BERPACU
MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN DANA
Kareba dari Jemaat Maranatha Kawata
Salah satu Jemaat berkembang di Klasis Malili-Nuha serta memiliki prospek yang baik ke depan adalah Jemaat Maranatha Kawata. Jemaat yang merupakan buah tangan penginjilan Rev. Ritzema seorang zendeling (NZG) sejak tahun 1927 ini terus ditantang untuk membenahi diri dalam menyongsong Trilogi kemandirian Jemaat sebagaimana yang dicita-citakan oleh GKST melalui salah satu rumusan Misi GKST.
Direntang perjalanan usia Jemaat Maranatha Kawata yang telah mencapai 83 (Delapan Puluh Tiga) Tahun ini, memang sudah sepantasnya Jemaat ini mulai intens dalam melaksanakan program-program yang bersifat menuju ke arah kemandirian. Jika diurai dalam perspektif Teologis tentang perjalanan Jemaat Maranatha Kawata, maka kita akan menemukan sebuah representasi di mana betapa tebalnya catatan-catatan sejarah yang telah dilalui oleh jemaat ini dalam kirah, jerih dan juang di medan pelayanan. Dalam penalaran penilaian yang obyektif, suka dan duka, baik dan buruk telah menorehkan sejarah panjang. Pahit getir, suka duka yang telah dilalui dalam kurun waktu 83 tahun sudah seyogyanya menjadi alat edukasi (Pendidikan) yang berharga bagi Jemaat Maranatha untuk meraih, menggapai dan menangkap sebuah masa depan Jemaat yang penuh harapan.
Bagaimana tidak, kepak-kepak sayap jemaat ini yang kadang hampir patah, tetapi keadaan itu tidak membuat fatal perjalanan persekutuan, pelayanan dan kesaksian. Sampai di tahun ke 83 perjalanan jemaat ini pada sisi-sisi tertentu, telah semakin nyata terjadinya perubahan paradigma berpikir warga jemaat tentang apa arti presensi (Kehadiran) mereka sebagai sebuah gereja.Meskipun harus diakui bahwa tantangan-tantangan yang muncul di lingkungan warga jemaat tetap ada.
Perubahan paradigma ini telah membawa Jemaat Maranatha Kawata pada sebuah realitas kehidupan berjemaat yang semakin responship terhadap kebutuhan pengembangan yang harus dilakukan. Program-program yang Implementatif sehubungan dengan Kemandirian Jemaat semakin mendapat perhatian serius. Hal ini dibuktikan oleh antusiasnya warga Jemaat dalam melakukan usaha-usaha yang lebih terarah pada persiapan untuk menangkap peluang-peluang secara ekonomis pada masa-masa mendatang. Beberapa waktu yang lalu warga jemaat Maranatha Kawata telah melakukan penanaman Kelapa sawit milik jemaat yang diharapkan dapat memberikan kontribusi Income bagi Jemaat, terutama dalam rangka mencapai kemandirian Dana. Penanaman Kelapa sawit milik Jemaat ini merupakan perealisasian Program Jemaat 2010 yang merupakan pengejawantahan dari salah satu rumusan Misi GKST tentang Kemandirian Dana. Program yang bernilai ekonomis ini merupakan kiat yang dilakukan di lingkungan Klasis Malili-Nuha dengan mendorong Jemaat-jemaat yang masih memiliki potensi lahan agar mengisi lahan-lahan Jemaat dengan tanaman-tanaman komoditi yang menghasilkan Income bagi Jemaat. Salah satu tanaman komoditi yang menjanjikan itu adalah kelapa sawit. Dengan motor penggerak yakni oleh Panitia Pembangunan, Penanaman Kelapa sawit Jemaat maranatha Kawata ini dikerjakan secara bergotong-royong oleh seluruh warga Jemaat, baik laki-laki maupun perempuan. Kerja sama ini merupakan Implementasi dari konsep kebersamaan yang selalu ditekankan secara Alkitabiah (Band Kis 18:3, Filipi 2:2-5). Memang Firman Allah itu benar adanya. Sebab setiap Jemaat yang selalu sehati sepikir dan hidup dalam kerja sama yang baik akan menikmati keberhasilan, akan mengalami pertumbuhan dan pada akhirnya akan menjadi sempurna seperti Kristus.
Selanjutnya dalam kunjungan Pelayanan yang dilakukan oleh Ketua Majelis Klasis pada hari Minggu, 19 September 2010, Majelis Klasis menyampaikan bahwa perubahan paradigma berpikir yang telah mulai nampak di lingkungan warga Jemaat kiranya itu terus dikembangkan, usaha-usaha yang dilakukan oleh Jemaat Maranatha Kawata untuk mengembangkan sayap menuju tri kemandirian kiranya terus dipacu sampai gereja, khususnya Jemaat Maranatha Kawata benar-benar mencapai tingkat kemandirian yang diharapkan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Majelis Klasis juga menyampaikan bahwa kerja sama yang baik akan mengurangi tingkat konflik di dalam jemaat.Hal ini sangat penting, sebab dengan begitu banyaknya konflik dan masalah-masalah yang muncul di dalam jemaat, itu akan menguras dan bahkan menghabiskan power serta waktu kita hanya untuk mengatasi dan menyelesaikan konflik dalam jemaat. Sementara hal-hal yang sifatnya Konstruktif (Membangun) tidak lagi mendapat perhatian. Seminggu, dua minggu jika kita pergunakan untuk membangun jemaat, maka itu akan menghasilkan jemaat yang maju dan terus mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Sangat berbeda dengan jemaat yang penuh konflik dan seperti kekanak-kanakan, jemaat seperti itu tidak akan pernah berkembang, sok pintar, sok tokoh tetapi kenyataannya keadaan jemaat tetap kumuh dan memalukan dari tahun ke tahun. Jemaat Maranatha Kawata tidak di harapkan menjadi jemaat yang seperti itu. Peliharalah perubahan yang sudah ada untuk pembangunan Jemaat. Demikian disampaikan oleh Ketua Majelis Klasis. Apa yang disampaikan oleh Majelis Klasis dalam kunjungan pelayanan ini ternyata mendapat tanggapan positip dari seluruh warga Jemaat yang hadir, termasuk warga gereja tetangga yang sempat hadir dalam Ibadah pengucapan syukur tersebut.
“KRITIS, GERSANG, NAMUN MEMBERI KEHIDUPAN”
Pemanfaatan Lahan Kosong di Jemaat Tiberias Matompi
Jika kita Melangkah sesaat ke belakang gedung Gereja dan Pastori Jemaat Tiberias Matompi, kita akan menyaksikan sebidang tanah dengan pemandangan yang menyegarkan. Ketika kita berdiri di atas lahan yang tidak begitu luas itu, kita akan merasakan tiupan angin sepoi-sepoi yang dapat saja membuat mata terkantuk-kantuk. Seperti itulah umumnya yang terjadi bila kita diterpa tiupan angin sepoi-sepoi. Tetapi kelumrahan itu tidak terjadi di tempat ini. Kantuk akan hilang bahkan mata terbelalak liar menyapu ke semua sudut lahan. Meskipun struktur tanah berwarna merah kehitam-hitaman sebagai pertanda betapa kritisnya keadaan tanah tersebut, tapi lihatlah, bahwa di atas lahan tanah jemaat ini kita bisa menyaksikan daun merica (Lada) yang bergoyang lembut dengan warna daun hijau royo-royo, di sudut yang lain, kita bisa menyaksikan tanaman lombok jumbo yang baru mulai di semai, pada sudut yang lain kita juga melihat tanaman singkong yang memiliki multi-guna bagi manusia, sedangkan pada sudut yang lain di mana lahan agak terlihat berlembah, kita bisa menyaksikan kolam ikan Mas yang kesemuanya adalah milik jemaat, dikerjakan oleh jemaat dan tentu hasilnya juga akan dikelolah untuk pekerjaan pelayanan di jemaat Tiberias Matompi. Meskipun anggota jemaat ini hanya terdiri dari beberapa orang janda dan duda, tetapi jumlah yang sangat kecil ini tidak mempengaruhi aktifitas persekutuan mereka. jemaat ini tampak hidup dengan berbagai aktifitas kebersamaan, baik dalam Ibadah maupun dalam kegiatan mengelolah lahan-lahan yang ada di sekitar gereja dan pastori dan menjadikannya sebagai lahan yang produktif. Menurut Pdt. Margaretha Tandumai, STh, yang juga adalah pendeta jemaat ini bahwa beberapa waktu yang lalu jemaat Tiberias Matompi baru saja melaksanakan panen kacang tanah dan jagung yang mereka tanam di atas lahan milik jemaat ini. Keterangan ini dapat dipercaya, sebab ketika dilakukan pengambilan gambar lahan tersebut oleh Majelis Klasis, di pinggiran lahan masih terlihat sisa-sisa batang kacang tanah dan juga batang-batang jagung pasca panen. Bahkan Ibu Pdt. Margaretha memberikan oleh-oleh kacang tanah yang sudah dikupas kepada Majelis Klasis ketika berkunjung ke jemaat ini untuk di bawa pulang ke Wasuponda. Team Redaksi BK dan Majelis Klasis menghimbau kepada jemaat-jemaat lain yang memiliki lahan kososng agar memanfaatkan lahan-lahan tersebut dan mengisinya dengan tanaman-tanaman yang bernilai ekonomis. Sebab belajar dari Jemaat Tiberias Matompi yang beranggotakan beberapa janda dan duda bahkan hanya ditunjang dengan lahan yang sangat kritis, ternyata dengan ketekunan dan kebersamaan, maka terbukti lahan kritis itu telah memberikan kehidupan bahkan memberikan hasil yang baik. Realitas ini semakin mengukuhkan kebenaran Firman Tuhan dalam Mazmur 133:1,3 Alangkah baiknya dan indahnya apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun, Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.
Bagi warga Jemaat GKST di Klasis Malili-Nuha bahkan seluruh warga GKST, di sini kita perlu belajar mencermati konteks kehidupan kita, bahwa meskipun lahan kritis, situasi seakan kurang mendukung, tetapi dengan kebersamaan, maka sesuatu yang kelihatannya mustahil semuanya akan menjadi mungkin, sebab Tuhan sendiri yang berkata seperti itu melalui firmanNya. Mari kita belajar untuk membuat lahan-lahan di jemaat kita menjadi produktif dan hasilnya akan berguna dalam pelayanan untuk kemuliaan Tuhan, jangan malas dan acuh tak acuh.
FACE BOOK...? SIAPA TAKUT...?
Masih Relevankah Firman Allah
Di Era Informatika Ini?
Terutama bagi golongan muda yang konon katanya “Gaul”, Face book ternyata lebih banyak diasumsikan sebagai media yang paling relevan dengan kehidupan di era mutakhir ini. Dalam banyak hal, tekhnology Informatika ini telah merampas begitu banyak Otoritas Allah yang tercantum dan tertulis dalam Alkitab. Dalam pandangan Alkitab, Tekhnology bukan dosa, apalagi jika dikambinghitamkan sebagai sumber dosa. Tekhnology adalah sebuah media yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi sarana menggali dan menemukan sebuah kebenaran bahwa Allah telah memberikan kuasa kepada manusia, kepada warga gereja, kepada kaum muda untuk menguasai dan mempergunakan tekhnology untuk memuliakan Allah. Tetapi tekhnology lebih sering dijadikan hanya sebagai sarana eksploitasi untuk memuaskan diri sendiri sebagai cerminan gaya hidup Hedonisme (Mencintai kesenangan semata-mata) dan tidak lagi berada pada posisi untuk menyenangkan hati Allah. Di era Informatika ini, lebih banyak orang tertarik dan kecanduan dengan dunia maya, berface book, membuang waktu berjam-jam untuk bergelut di dunia maya. Tetapi untuk bergelut menggali kebenaran firman Allah adalah satu kebiasaan yang sangat sulit ditemukan di lingkungan warga gereja seperti sekarang ini. Slogan dunia maya sering kali menyebutkan bahwa : Teknology internet membantu kita untuk dekat dengan sahabat yang jaraknya sangat jauh sekalipun. Tetapi kenyataan membuktikan bahwa semakin jauh seseorang kecanduan dengan dunia maya, justru semakin jauh pula mereka berjalan pada kehidupan yang tidak nyata, kehidupan yang penuh dengan angan-angan kosong! Dunia maya, Internet, Face book membuat pemahaman umat manusia khususnya warga gereja tentang kebenaran firman Allah menjadi semakin kabur, sebab dunia maya dalam banyak hal tidak lagi diberi posisi dan difungsikan sebagai alat memuliakan Allah.
Alkitab yang berisi kebenaran firman Allah semakin dianggap tidak relevan. Tetapi sebetulnya Alkitab adalah media yang bisa mendekatkan warga gereja pada sahabat sejati Yaitu Tuhan Allah. Dengan kecanduan menggali kebenaran firman Allah di dalam Alkitab, maka kehidupan ini akan menjadi nyata. Dengan memahami secara benar isi firman Allah, warga gereja akan disanggupkan untuk dapat menaklukan dan menguasai segala sesuatu yang ada di darat, laut dan udara. Dengan kecanduan menggali kebenaran firman Allah, maka warga gereja akan dapat merasakan bahwa Tuhan yang berada di sorga, yang mungkin jauh di atas galaxy dan planet-planet kini dekat di depannya, di hatinya dan di kehidupannya. Dengan kecanduan dunia maya yang tidak ditujukan untuk kemuliaan Allah kita bisa kehilangan berkat, kehilangan bayak biaya pulsa, biaya modem, kita bisa kehilangan suami-istri, bagi kaum muda, kita bisa kehilangan orang yang paling kita sayangi (pacar ta) akibat perselingkuhan melalui dunia maya. Tetapi Dengan kecanduan kebenaran firman Tuhan, kita bukannya akan kehilangan, tetapi kita justru akan terus memperoleh berkat. Ati-ati khoooooooooooo!
KELOMPOK TANI LAPANG
BINAAN COMUNITY DEVELOPMENT PT. INCO
Seputar Kegiatan Budidaya Tanaman Padi KTL Dari Landangi
Cuaca siang itu Kamis, 14 Oktober 2010 begitu cerah, angin sepoi-sepoi membuat suasana di sekitar dangau milik anggota Sanggar Tani budidaya tanaman padi Landangi menjadi semakin sejuk. Yang menambah ASRI suasana di atas Dangau (Pondok) milik Kelompok Tani ini adalah karena dibangun di atas sungai Landangi alias Koro Landangi, demikian orang Landangi menyebut nama sungai kesayangan mereka ini, sungai yang mengalikan air jernih dan sejuk. Suasana semakin nyaman karena di bawah dangau itu terdengar di telinga, suara gemuruh air yang terus bergerak menuju ke muara sungai cerekang nun jauh di sana. Oh Indahnya karya Tuhan jika dikelola dengan baik oleh tangan-tangan manusia yang berbudi pekerti....,
Dari Kejauhan nampak iring-iringan sekelompok orang yang menggunakan baju seragam warna cream. Ternyata baju yang membalut tubuh-tubuh itu adalah baju seragam Kelompok Tani Lapang Landangi yang melakukan penelitian tentang tanaman padi. Pada lahan Kelompok tani ini di tanam + 12 Varietas padi, di mana masing-masing Varietas di teliti sedemikian rupa oleh anggota kelompok. Ternyata hari itu mereka sedang meneliti hama yang menyerang padi-padi yang di tanam dengan tanpa menggunakan pupuk kimia, tetapi menggunakan pupuk organik yang mereka produksi sendiri dengan menggunakan alat Sumbangan PT. Inco Soroako. Ayo....kita mulai menggambar...., demikian Pak Dayat mengarahkan anggota kelompok Tani ini seusai melakukan Research Lapangan. Pak Dayat adalah salah seorang Instruktur Pertanian yang khusus didatangkan dari Pulau Jawa oleh PT. Inco Soroako. Masing-masing menggambarkan hasil Penelitiannya di atas sebuah karton warna putih. Ternyata semua menemukan bahwa hama yang paling dominan menyerang tanaman padi hari itu adalah tikus dan belalang. Tiba-tiba P. Anton Ondey memimpin anggota kelompok untuk menyanyikan lagu ...”Kita Orang Gila...” Kami tertawa terkekeh-kekeh mendengar lagu itu. Oh....ternyata yang dimaksud dengan “GILA” dalam Lagu tersebut adalah : “Gerakan Insan Lestarikan Alam.” Mengapa? Sebab kelompok Tani ini melakukan gerakan Pertanian tanpa menggunakan Pestisida, demi menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Nimbrung selama 1 (Satu) Jam dengan anggota Kelompok Tani ini memberikan banyak Inspirasi bagi Majelis Klasis tentang bagaimana melestarikan alam, sementara itu warga gereja dapat mengkonsumsi makanan yang tidak mengandung zat racun. Maju terus Landangi, raih masa depan ekonomi yang lebih baik ke depan.
RE - ANALISA TENTANG
JEMAAT KELOMPOK KEBAKTIAN ATUE
Cikal Bakal Jemaat Masa Depan Di sekitar Kota Malili
Meskipun saat ini Jemaat Kelompok Kebaktian Atue belum definitif berdiri sebagai sebuah Jemaat, tetapi dapat dipastikan bahwa 1 (Satu) Dasawarsa ke depan Cikal bakal Jemaat ini akan menjadi sebuah Jemaat besar. Thesis ini dilatarbelakangi oleh beberapa Faktor penting :
1. Lahan Perumahan disekitar dusun Ue Mami, Atue dan sekitarnya masih sangat luas dan potensial. Beberapa waktu lalu, Desa Atue tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan desa-desa lain disekitarnya. Tetapi lambat laun desa ini mengalami pertumbuhan pesat dan sangat signifikan. Realitas ini disebabkan karena desa ini hanya berjarak + 10 KM dari kota Malili, Ibu Kota Kabupaten Luwu Timur. Tahun lalu saja, kita tidak membayangkan bahwa dipersambungan ruas desa Ussu dan Atue akan dibangun hotel berbintang dan menjadi kawasan perumahan, tetapi sejak pertengahan tahun 2010 di tempat ini alat-alat berat aktif bekerja, melakukan pengerasan untuk persiapan Pembangunan Hotel dan perumahan yang direncanakan menjadi kawasan elit di daerah ini. Artinya ke depan Desa Atue akan menjadi alternative bagi banyak orang untuk mencari lahan untuk perumahan.
2. Pengembangan kota Malili. Wilayah Desa Atue termasuk daerah dataran yang cukup luas untuk pengembangan kota Malili ke depan. Pembangunan fasilitas Pendidikan bahkan perkantoran, selain yang sudah ada mungkin akan dibangun ke luar ke arah barat, sebab ke arah timur merupakan daerah pegunungan yang kemungkinan sulit dibangun fasilitas umum. Oleh karena itu untuk perluasan kota ke arah timur kemungkinannya sangat kecil.
3. Diprediksi Ke depan bahwa kawasan sepanjang Malili sampai Atue akan menjadi kawasan pertambangan. Saat ini sedang dilakukan eksplorasi kandungan mineral di pegunungan-pegunungan yang disekitar kawasan ini. Artinya bahwa pada kurun waktu tertentu atau paling tidak, kembali dalam 1 (Satu) Dasawarsa ke depan, tidak dapat dihindari bahwa Desa Atue juga akan includ sebagai kawasan pertambangan. Prediksi ini di dukung oleh kenyataan sejarah bahwa sejak zaman Kedatuan Luwu pada abad-abad lampau, situs Katue (Baca : Atue) merupakan salah satu kawasan Industri besi tradisional yang cukup mashyur dan dikenal luas di lingkungan Kedatuan Luwu.
Dalam kaitan dengan membaca situasi ini, Majelis Klasis dalam kunjungan pelayanan beberapa waktu lalu mendorong agar Jemaat Kelompok Kebaktian Atue di kelola dan ditatalayani secara optimal, sebab pada waktu tertentu dalam satu Dasawarsa ini begitu banyak orang akan datang ke Atue, secara khusus yang menganut agama Kristen. Para migran ini dipastikan akan bernaung dan menjadi warga Jemaat di Jemaat ini. Di bawah Komando Pdt. H. Lombu’u, SmTh, Majelis Klasis berkeyakinan bahwa jemaat ini akan mengalami pertumbuhan yang lebih baik ke depan.
INFO KEGIATAN HUT WANITA GKST
DI KLASIS MALILI-NUHA
55 Tahun berkarya di Ladang Pelayanan
55 Tahun sudah Persekutuan wanita GKST berkarya dan berjuang di medan pelayanan. “Di usia yang sudah terbilang uzur ini, wanita GKST diharapkan lebih kreatif dalam mengembangkan sayap pelayanan baik di lingkungan keluarga, Gereja dan masyarakat”, demikian disampaikan Ketua Majelis Klasis dalam kesempatan Ibadah syukur HUT Wanita GKST Rayon III : Landangi, Kawata dan Koropansu. Pada acara HUT di Rayon III yang dilaksanakan di Jemaat Sion Landangi, Wanita Rayon III Malili-Nuha telah memeriahkannya dengan kegiatan CCA dan Lomba Vokal Group. Medali Emas VG di kantongi oleh Komp. Wanita Jemaat Maranatha Kawata, Perak Landangi sedangkan perunggu disabet oleh Wanita Jemaat Koropansu. Ibadah HUT ke-55 ini dipimpin oleh Pdt. H. Lombu’u, SmTh. Pada Rayon II, Ibadah HUT Wanita GKST dilaksanakan di Jemaat Moria Angkona dengan pelayan Firman : Pdt. Ni Wayan S. Ruthari Parwata, MTh, sedangkan Rayon I Ibadah yang sama dilaksanakan di Jemaat Tiberias Matompi, jemaat diujung paling Timur Klasis Malili-Nuha ini. Sementara pelayan Firman pada Rayon I adalah Dkn. Werida Podengge, Majelis Jemaat Sion Wasuponda sekaligus Ketua Komisi Wanita Klasis Malili-Nuha Periode 2008-2012.
Dalam kaitan dengan Kemandirian Teologi, Daya Dan Dana, ke depan sangat diharapkan bahwa wanita GKST dapat mewujudkan Visi dan Misi ini melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat pemberdayaan baik di bidang Pelayanan maupun di bidang ekonomi. Mengingat peranan wanita atau perempuan sangat besar di lingkungan Keluarga, Gereja dan masyarakat. Untuk dapat secara konsisten mengisi peran kaum perempuan yang demikian besar, wanita GKST perlu lebih banyak belajar dan memperlengkapi diri dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan. Hal ini penting, sebab tanpa pengetahuan dan keterampilan yang baik dan cukup, Kaum perempuan akan terus menerus mendapat “Stigma” atau Cap sebagai orang Nomor 2. bahkan dengan minusnya kemampuan yang dimiliki dapat mengakibatkan kaum Perempuan akan terus-menerus menjadi obyek pelecehan bahkan kekerasan. Sudah saatnya kaum perempuan membuktikan diri bahwa berteologi, memberdayakan diri dan sebagai Planer (Perencana) ekonomi dalam Rumah Tangga itu dapat dilakukan oleh kaum perempuan tanpa bergantung kepada laki-laki. Dirgahayu Wanita GKST.
Blog dengan berbagai konten yang diharapkan dapat membangun kehidupan yang komprehensive
BalasHapus